Dukung Login

Mengapa Tuhan peduli pada orang miskin dan apa peran kita di dalamnya

🌐 30 Mar 2026
👁 19 Views | X

Seorang wanita kecil berdiri di ruang tamu saya sambil terus berkata, “saya butuh bantuan darurat.” Saat itu saya berusia 22 tahun, dan suami saya baru saja melayani sebagai pendeta di sebuah gereja kecil di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Pintu rumah kami terbuka, orang-orang keluar masuk membawa barang di tengah hujan.


Saya sibuk mengatur semuanya dan tidak menyadari wanita itu sampai ia berdiri tepat di samping saya. Tubuhnya kotor, pakaiannya robek, sebagian besar giginya hilang, dan wajahnya tampak lelah karena kerasnya hidup. Dengan mata penuh air mata, ia berkata, “saya lapar.”


Saya segera menyiapkan makanan dan memberikannya. Belum sempat berbicara lebih jauh, ia sudah pergi.

Saat itu saya merasa tidak mampu. Kebutuhan di tempat baru ini begitu nyata. Ayah saya merangkul saya dan berkata pelan, “itulah alasan kamu ada di sini, nak.”

Kami ada di sana karena banyak orang membutuhkan bantuan, baik secara fisik maupun rohani. Mereka butuh makanan, tempat tinggal, pakaian, dan juga kasih. Kami belajar menyambut orang, berbagi, dan memberi sebisa kami.


Dalam prosesnya, kami sadar bahwa kami juga belajar dari mereka. Orang-orang di sana hidup dengan jujur. Mereka tidak berpura-pura. Mereka berbicara langsung tentang kesulitan mereka. Mereka tidak peduli status atau pencapaian. Mereka hanya fokus bertahan hari ini.




Daftar Isi:

  1. Tuhan peduli pada orang miskin
  2. Tuhan memanggil orang miskin
  3. Tuhan memenuhi kebutuhan
  4. Gereja harus terlibat
  5. Cara praktis membantu sesama
  6. Kekayaan sejati dalam kehidupan rohani

1. Tuhan peduli pada orang miskin


Di dalam Alkitab, jelas bahwa Tuhan mengasihi orang yang membutuhkan. Ia tidak melupakan mereka. Ia tidak menjauh dari mereka. Sebaliknya, ia menolong dan menyediakan kebutuhan mereka.


Alkitab menyatakan bahwa Tuhan menegakkan keadilan bagi orang tertindas dan memberi makan kepada yang lapar (Mazmur 146:7). Ia juga memerintahkan umatnya untuk menyisakan hasil panen bagi orang miskin (Imamat 19:10). Dalam Amsal 19:17 disebutkan bahwa siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memiutangi Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kepedulian kepada orang miskin adalah bagian dari Hati Tuhan. Ia tidak pernah mengabaikan mereka, tetapi hadir dan bekerja untuk menolong mereka melalui umat-Nya.



2. Tuhan memanggil orang miskin


Yesus sendiri hidup sederhana. Ia tidak datang sebagai orang kaya. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hal yang hina di mata Tuhan. Ia memanggil semua orang, baik kaya maupun miskin, karena semua manusia membutuhkan pertolongan.


Yesus berkata, berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan karena mereka empunya kerajaan Sorga (Matius 5:3). Dalam 1 Korintus 1:27, Tuhan memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat. Yakobus 2:5 juga menegaskan bahwa orang miskin dipilih untuk menjadi kaya dalam iman. Ini menunjukkan bahwa panggilan Tuhan tidak ditentukan oleh status, melainkan oleh kasih karunia-Nya kepada semua orang.



3. Tuhan memenuhi kebutuhan


Tuhan mendengar seruan orang yang membutuhkan dan bertindak. Ia bekerja melalui umatNnya untuk membantu sesama. Gereja dikenal karena kepeduliannya terhadap orang yang membutuhkan.


Mazmur 34:18 menyatakan bahwa Tuhan dekat dengan orang yang patah hati. Dalam Filipi 4:19, Tuhan berjanji memenuhi segala keperluan menurut kekayaan-Nya. Yesus juga memberi makan lima ribu orang sebagai bukti kuasa-Nya (Matius 14:19). Dalam Kisah para rasul 2:45, jemaat saling berbagi sesuai kebutuhan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya peduli, tetapi juga bertindak nyata untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya.



4. Gereja harus terlibat


Kita dipanggil untuk peduli dan membantu. Ini bukan pilihan, tetapi bagian dari iman. Kita harus hadir di tengah penderitaan dan membawa harapan.


Ulangan 15:11 memerintahkan untuk membuka tangan bagi orang miskin. Efesus 4:28 mengajarkan untuk bekerja agar dapat berbagi dengan yang membutuhkan. Yakobus 2:17 menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Yesus juga berkata bahwa apa yang dilakukan kepada yang paling kecil, dilakukan kepada-Nya (Matius 25:40). Ini menunjukkan bahwa kepedulian kepada sesama adalah bukti nyata iman.



5. Bagaimana melakukannya secara nyata


Tidak semua orang harus pindah tempat atau mengubah pekerjaan. Kita bisa membantu dengan cara sederhana seperti berbagi makanan, memberi bantuan kecil, atau terlibat dalam kegiatan sosial di sekitar kita.


Amsal 11:25 mengatakan bahwa orang yang memberi akan diberkati. Lukas 6:38 mengajarkan untuk memberi, maka kita akan menerima. Kisah orang samaria yang baik hati (Lukas 10:33) menunjukkan pentingnya menolong tanpa memandang latar belakang. Galatia 6:9 juga mengingatkan untuk tidak lelah berbuat baik. Hal kecil seperti memberi dan peduli dapat menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain.



6. Kekayaan dalam kerajaan lain


Yesus menjadi miskin supaya kita menjadi kaya secara rohani. Ini bukan tentang kekayaan dunia, tetapi tentang hidup yang benar di hadapan tuhan.


Matius 6:20 mengajarkan untuk mengumpulkan harta di sorga. 2 Korintus 8:9 menyatakan bahwa Yesus menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. 1 Timotius 6:10 mengingatkan bahwa cinta uang adalah akar kejahatan. Wahyu 2:9 menunjukkan bahwa meski miskin secara dunia, kita bisa kaya secara rohani. Kekayaan sejati adalah hidup dalam kebenaran dan hubungan dengan Tuhan.