Dukung Login

Suku Bunga BI Naik 5,25%, Apa Dampaknya Buat Rakyat Indonesia?

🌐 23 May 2026
👁 64 Views | X

Kenaikan BI Rate 5,25%: Alarm Pengetatan Ekonomi yang Mengancam Dompet Rakyat


Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility naik ke level 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen. Keputusan ini langsung mengirimkan sinyal pengetatan ekonomi yang dampaknya bakal terasa hingga ke kantong masyarakat biasa, mulai dari cicilan rumah yang kian berat, biaya modal usaha yang membengkak, hingga ancaman melemahnya daya beli secara keseluruhan.




Di tengah suasana ketidakpastian global yang belum mereda, pertanyaan besar pun mengemuka: seberapa jauh Indonesia bisa bertahan dari tekanan ini, dan langkah apa saja yang harus segera diambil agar ekonomi tidak terseret lebih dalam?


Ekonom dari Economy Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Muhammad Rizal Taufikurrahman, menjelaskan bahwa kenaikan BI rate ini pada dasarnya merupakan respons terhadap tekanan eksternal yang semakin kuat. Tingginya suku bunga global, penguatan dolar Amerika Serikat, dan meningkatnya risiko arus keluar modal asing membuat Bank Indonesia terpaksa mengambil langkah tersebut demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menekan laju inflasi yang sebagian besar didorong oleh harga-harga impor.


Meski nilai tukar rupiah mulai menunjukkan sedikit penguatan setelah keputusan ini, pergerakan itu belum cukup kuat dan tidak diikuti oleh penguatan indeks harga saham gabungan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak nyata terhadap masyarakat dan dunia usaha yang harus menanggung beban kenaikan bunga secara langsung.




UMKM dan Sektor Properti Paling Terpukul


Rizal menegaskan bahwa kelompok yang paling rentan merasakan tekanan ini adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Biaya modal yang naik di saat yang bersamaan dengan melemahnya permintaan konsumen menciptakan tekanan ganda bagi UMKM. Sebagai solusi, ia mendorong pemerintah untuk memperluas penyaluran kredit usaha rakyat dengan bunga murah, memperkuat penjaminan kredit, serta memberikan insentif pajak bagi pelaku UMKM agar mereka tetap bisa bernapas di tengah situasi sulit ini.


Sektor properti dan perumahan juga masuk dalam daftar yang paling terdampak. Kenaikan suku bunga otomatis mendorong cicilan KPR semakin tinggi, yang pada gilirannya membuat minat calon pembeli rumah menjadi surut. Para pengembang properti pun dipastikan akan menghadapi perlambatan penjualan dan tekanan pada arus kas mereka. Rizal menyarankan agar pemerintah segera mengeluarkan paket stimulus berupa uang muka yang lebih ringan, perpanjangan tenor kredit, dan relaksasi pajak properti agar gairah pasar perumahan tidak sepenuhnya padam.




Ancaman Kredit Macet dan PHK


Lonjakan bunga pinjaman juga berpotensi memicu gelombang kredit bermasalah di sektor perbankan. Rumah tangga yang selama ini sudah terbebani cicilan kini semakin sulit memenuhi kewajiban mereka. Rizal mengingatkan bahwa perbankan perlu bersiap memberikan kelonggaran kepada debitur yang berpotensi mengalami kesulitan, baik melalui perpanjangan tenor maupun restrukturisasi kredit, demi mencegah lonjakan non-performing loan yang bisa mengguncang stabilitas sistem keuangan secara lebih luas.


Di sisi industri dan ketenagakerjaan, kenaikan biaya pinjaman membuat banyak pelaku usaha mengerem rencana ekspansi. Sektor manufaktur dan industri padat karya menjadi yang paling berisiko mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama tanpa ada bantalan kebijakan yang memadai.




Koordinasi Moneter dan Fiskal Jadi Kunci


Rizal menekankan bahwa kenaikan BI rate tidak boleh berdiri sendiri. Kebijakan moneter ini harus berjalan beriringan dengan kebijakan fiskal pemerintah agar dampaknya bisa terasa secara nyata di sektor-sektor produktif. Pemerintah perlu memastikan bahwa stimulus fiskal benar-benar menyentuh sektor riil, mengendalikan inflasi pangan, serta menjaga agar kredit bagi UMKM, industri manufaktur, dan sektor perumahan tetap tumbuh demi menopang produk domestik bruto nasional.


Ia juga mengingatkan adanya risiko inflasi impor yang harus diwaspadai. Jika tekanan ini tidak segera ditahan melalui insentif fiskal yang tepat sasaran, daya beli masyarakat bisa terus melemah di tengah perlambatan konsumsi yang sudah mulai terasa.



Soal menguntungkan atau tidaknya mendepositokan dana di perbankan saat ini, Rizal menjelaskan bahwa kenaikan deposit facility memang membuat bank lebih tertarik menempatkan dana di Bank Indonesia ketimbang menyalurkan kredit secara agresif. Kondisi ini membantu menstabilkan rupiah dan inflasi, namun di sisi lain bisa membuat perbankan lebih konservatif dalam memberikan pinjaman ke sektor riil. Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu menyeimbangkan kebijakan ini dengan pelonggaran aturan likuiditas agar kredit ke sektor produktif tidak ikut terhambat.


Indonesia kini berada di persimpangan yang menuntut kehati-hatian. Koordinasi yang kuat antara otoritas moneter dan fiskal, disertai kebijakan yang tepat dan cepat, menjadi satu-satunya jalan agar ekonomi tetap stabil dan masyarakat tidak semakin terbebani.