Dukung Login

Tabungan Masyarakat Menyusut, Konsumsi Kini Ditopang Utang dan Pinjol

🌐 03 Aug 2026
👁 158 Views | X

Konsumsi masyarakat Indonesia masih tumbuh, namun sumber pembiayaannya mulai bergeser dari pendapatan ke tabungan dan utang. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal awal melemahnya ketahanan keuangan rumah tangga di tengah kenaikan biaya hidup.


Daftar Isi:


Pergeseran Sumber Konsumsi Masyarakat

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurrahman, mengungkapkan bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia memang masih bertahan. Namun pola pembiayaannya berubah signifikan. Survei Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan yang dipakai untuk konsumsi naik dari 72 persen pada Mei menjadi 73 persen pada Juni. Sebaliknya, porsi tabungan justru turun dari 17,6 persen menjadi 17 persen pada periode yang sama, sementara porsi cicilan tetap berada di kisaran 10 persen dari total pendapatan.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi saat ini tidak lagi sepenuhnya ditopang kenaikan pendapatan, melainkan mulai mengandalkan pengurangan tabungan dan tambahan utang. Menurut Rizal, ini adalah sinyal bahwa permintaan domestik masih bertahan, tetapi daya tahan keuangan rumah tangga mulai melemah. Dalam jangka pendek konsumsi masih menopang pertumbuhan ekonomi, namun fondasinya berangsur rapuh dalam jangka menengah.



Penyebab Utama - Pendapatan Tertinggal dari Biaya Hidup

Penurunan rasio tabungan terjadi karena ruang masyarakat untuk menyisihkan pendapatan semakin sempit. Data Mandiri Spending Index memang masih menunjukkan pertumbuhan belanja sebesar 6,3 persen, tetapi optimisme konsumen justru melemah dan indeks tabungan kelompok bawah maupun menengah ikut menurun. Artinya, masyarakat berbelanja bukan karena kondisi ekonomi membaik, melainkan karena kebutuhan konsumsi yang tidak bisa ditunda.

Pelemahan rupiah hingga kisaran Rp18.000 per dolar AS turut memperbesar tekanan psikologis dan biaya hidup masyarakat. Akar persoalannya tetap sama - pertumbuhan pendapatan tertinggal jauh dibanding kenaikan biaya hidup sehari hari.



Fenomena Makan Tabungan di Rumah Tangga Menengah Bawah

Struktur pengeluaran rumah tangga menengah bawah membuat kelompok ini paling rentan terdampak. Sebagian besar pendapatan mereka teralokasi untuk kebutuhan pokok seperti pangan dan pakaian, sehingga kenaikan harga sedikit saja langsung menggerus pendapatan riil mereka. Rizal menyebut tabungan menjadi shock absorber pertama yang digunakan rumah tangga saat tekanan ekonomi meningkat.


Setelah tabungan menipis, rumah tangga mulai memanfaatkan pinjaman atau menjual aset yang dimiliki, mulai dari tanah, rumah kedua, hingga sawah, atau bahkan menggadaikan barang. Fenomena "makan tabungan" atau "makan aset" ini menjadi indikator bahwa kapasitas rumah tangga membangun kekayaan (wealth accumulation) semakin lemah. Persoalannya bukan sekadar perubahan perilaku konsumsi, melainkan belum adanya perbaikan pada sisi pendapatan.



Lonjakan Pinjaman Online dan Risiko Over Leverage

Bagi rumah tangga yang tidak memiliki tabungan maupun aset, pilihan yang tersisa adalah meminjam, baik lewat kartu kredit maupun pinjaman online (pinjol) yang aksesnya kini semakin mudah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah pinjol yang beredar pada April 2026 mencapai Rp102,07 triliun, naik 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Rizal, tren ini menandakan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat sedang rentan, meski belum masuk kategori krisis. Semakin banyak rumah tangga menggunakan pembiayaan jangka pendek untuk menjaga konsumsi mereka. Risiko terbesar bukan hanya potensi gagal bayar pinjol, melainkan kondisi over leverage di level rumah tangga - ketika debitur yang sama menanggung KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, sekaligus layanan paylater. Kemampuan membayar seluruh kewajiban pun semakin tertekan, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas kredit di sektor keuangan secara keseluruhan.



Konsumsi yang Ditarik dari Masa Depan

Rizal menegaskan bahwa persoalan utang rumah tangga sebenarnya bukan soal konsumsi atau bukan konsumsi. Jika utang digunakan untuk menciptakan aset produktif yang menghasilkan pendapatan jangka panjang, hal itu masih tergolong wajar. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika utang dipakai untuk memenuhi kebutuhan rutin jangka pendek seperti pangan, pendidikan, kesehatan, atau membayar cicilan sebelumnya.

Jika pola ini berlangsung terus menerus, konsumsi saat ini pada dasarnya "ditarik" dari konsumsi masa depan. Dampaknya, ruang belanja rumah tangga akan semakin terbatas pada periode berikutnya karena sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk membayar bunga dan pokok utang, di samping kebutuhan hidup saat ini.



Langkah yang Diperlukan untuk Menjaga Daya Tahan Ekonomi

Meski konsumsi masih tumbuh, kondisi yang ditopang penurunan tabungan dan peningkatan utang merupakan sinyal melemahnya ketahanan keuangan rumah tangga dan dunia usaha. Rizal menekankan perlunya keseimbangan lewat peningkatan upah riil, penciptaan lapangan kerja, dan pengendalian biaya hidup. Pemerintah diharapkan menjaga stabilitas harga serta mendorong penyerapan tenaga kerja berbasis padat karya.

Hal ini penting mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 80 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia. Jika pemerintah tidak berupaya mencari solusi atas persoalan ini, pertumbuhan ekonomi berisiko tergerus dari sisi indikator utama penyumbang pertumbuhan domestik nasional.



FAQ (tanya- jawab);


T: Apa arti istilah "makan tabungan" dalam konteks ekonomi ini?

J: Istilah ini menggambarkan kondisi rumah tangga yang membiayai konsumsinya dengan menggunakan tabungan yang ada, bukan dari kenaikan pendapatan, karena penghasilan tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.


T: Mengapa rasio tabungan masyarakat bisa turun dari 17,6 persen ke 17 persen?

J: Penurunan terjadi karena ruang masyarakat untuk menyisihkan pendapatan semakin sempit akibat kenaikan biaya hidup, sehingga sebagian besar penghasilan terpakai untuk konsumsi yang tidak bisa ditunda.


T: Seberapa besar risiko lonjakan pinjaman online terhadap ekonomi?

J: Lonjakan pinjol yang mencapai Rp102,07 triliun pada April 2026 menandakan kerentanan likuiditas rumah tangga dan berpotensi menurunkan kualitas kredit sektor keuangan jika terjadi over leverage.


T: Apa dampak jangka panjang jika utang dipakai untuk konsumsi rutin?

J: Konsumsi saat ini pada dasarnya ditarik dari masa depan, sehingga ruang belanja rumah tangga akan semakin terbatas pada periode berikutnya karena harus membayar bunga dan pokok utang.


T: Apa solusi yang disarankan untuk mengatasi fenomena ini?

J: Solusinya mencakup peningkatan upah riil, penciptaan lapangan kerja padat karya, serta pengendalian biaya hidup agar konsumsi rumah tangga tetap terjaga tanpa mengorbankan tabungan.