Orang kaya memiliki lebih banyak utang daripada Anda - dan itulah rahasia mereka. Sementara kebanyakan orang berlomba-lomba bebas dari utang, orang kaya justru meminjam jutaan dan semakin makmur setiap harinya. Apa yang mereka ketahui yang tidak pernah diajarkan kepada Anda?
Daftar Isi:
- Anda diajarkan salah - dan itu bukan kebetulan
- Perbedaan yang menentukan segalanya - utang baik dan utang buruk
- Utang seperti senjata api - hormati atau binasa
- Kisah dua mobil yang mengubah cara pandang tentang kekayaan
- Standar hidup naik tapi kecerdasan finansial tidak ikut naik
- Dua pilihan yang sama-sama menyengsarakan
- Hidup hemat ternyata jauh lebih mahal dalam jangka panjang
- Emosi adalah musuh terbesar keuangan Anda
- Bermain di permainan yang berbeda dengan aturan yang berbeda.
Anda diajarkan salah - dan itu bukan kebetulan
Ada sebuah kebenaran yang tidak nyaman namun perlu dihadapi dengan jujur: sebagian besar dari kita menghabiskan seluruh hidup berlari dari utang. Kita diajarkan untuk takut padanya. Kita memotong kartu kredit, hidup di bawah kemampuan kita, dan merasa bangga karena berhasil tetap bebas dari utang. Dan kita tetap miskin.
Sementara itu, di sisi lain dunia, orang-orang kaya meminjam jutaan - bahkan puluhan juta dolar - dan semakin kaya setiap harinya. Sekilas ini terdengar salah. Bahkan mungkin terasa tidak adil. Namun inilah realitanya: itu terdengar salah bukan karena memang salah, melainkan karena kita diajarkan dengan cara yang keliru. Dan ada yang berpendapat bahwa kesalahan ini bukan sekadar kebetulan.
Seperti yang pernah diungkapkan Robert Kiyosaki dalam program Rich Dad Radio, sistem pendidikan tidak pernah sungguh-sungguh mengajarkan kita tentang uang. Sekolah mengajarkan cara mendapatkan pekerjaan yang baik, bukan cara membangun kekayaan. Dan dalam kekosongan pendidikan finansial itulah, ketakutan terhadap utang tumbuh subur - ketakutan yang ironisnya justru menjaga kita tetap berada dalam kondisi keuangan yang pas-pasan.
Pertanyaannya bukan apakah utang itu baik atau buruk. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: jenis utang apa yang Anda miliki, dan siapa yang membayarnya?
Perbedaan yang menentukan segalanya - utang baik dan utang buruk
Inilah inti dari seluruh permainan keuangan yang dimainkan orang kaya, sebuah perbedaan sederhana yang jika dipahami dengan benar akan mengubah cara Anda memandang uang selamanya. Ada utang yang membuat Anda kaya, dan ada utang yang membuat Anda tetap miskin. Selama Anda tidak mengetahui perbedaannya, Anda sedang bermain dalam sebuah permainan yang tidak bisa Anda menangkan.
Utang baik adalah utang yang memasukkan uang ke dalam kantong Anda. Contoh yang paling mudah dipahami adalah pinjaman untuk membeli properti sewaan. Anda meminjam uang untuk membeli properti, penyewa membayar sewa, dan sewa itu menutup cicilan pinjaman beserta seluruh biaya operasionalnya - bahkan masih menyisakan keuntungan yang mengalir masuk ke kantong Anda setiap bulan. Itulah utang baik: uang orang lain bekerja untuk Anda.
Utang buruk adalah kebalikannya. Cicilan mobil yang nilainya terus menyusut setiap tahun, cicilan rumah yang bukan investasi melainkan konsumsi, tagihan kartu kredit untuk membeli sofa atau gadget terbaru - semuanya mengambil uang keluar dari kantong Anda setiap bulan tanpa memberikan apa pun kembali. Itulah utang buruk: uang Anda bekerja untuk orang lain.
Sederhana? Ya. Namun betapa banyak orang yang terus-menerus menumpuk utang buruk sambil mengira mereka sedang "berinvestasi" dalam gaya hidup mereka? Dan betapa banyak yang menolak seluruh konsep utang - termasuk utang baik - karena tidak memahami perbedaan mendasar ini?
Utang seperti senjata api - hormati atau binasa
Ada analogi yang sangat kuat tentang cara yang benar untuk memandang utang. Perlakukanlah semua utang - baik yang baik maupun yang buruk - seperti Anda memperlakukan senjata api yang terisi peluru: dengan rasa hormat yang sangat dalam.
Senjata api di tangan seseorang yang terlatih dan bertanggung jawab adalah alat perlindungan dan kekuatan. Namun senjata api yang sama di tangan seseorang yang tidak menghormatinya adalah ancaman yang mematikan. Utang bekerja dengan cara yang persis sama. Orang-orang yang tidak menghormati kekuatan utang akan dibinasakan secara finansial olehnya. Sementara mereka yang menghormatinya, yang meluangkan waktu untuk memahami cara kerjanya dan cara memanfaatkannya - mereka bisa menjadi kaya melampaui impian mereka sendiri.
Jadi ketika seseorang menyarankan Anda untuk memotong kartu kredit dan hidup di bawah kemampuan Anda, pada dasarnya mereka sedang berkata: Anda tidak bisa dipercaya dengan senjata yang terisi peluru. Dan mungkin saja mereka benar - untuk saat ini. Namun solusinya bukan menghindari senjata itu selamanya. Solusinya adalah belajar bagaimana menanganinya dengan benar.
Karena orang kaya tidak menghindari utang. Mereka menggunakannya setiap hari. Dan ada alasan yang sangat kuat mengapa mereka melakukannya - alasan yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun.
Kisah dua mobil yang mengubah cara pandang tentang kekayaan
Ada sebuah cerita yang menggambarkan perbedaan ini dengan sangat tajam. Seorang teman datang dengan wajah sumringah, mengajak melihat mobilnya yang baru dibeli: sebuah mobil bekas dengan cat yang mulai memudar, dengan harga Rp 55 juta. Ia sudah memasukkan Rp 8 juta lebih untuk suku cadang, dan ia yakin bisa menjualnya dengan harga Rp 94 juta. Ia bangga. Ia bahagia. Dan yang paling ia banggakan adalah: ia membayar tunai. Tidak ada utang.
Di sisi lain ada sebuah Porsche Speedster 1989 - mobil edisi terbatas yang hanya diproduksi 8.000 unit selama tiga tahun. Para kolektor membelinya dan langsung menyimpannya di atas balok. Jika Anda berhasil menemukan satunya pun untuk dijual, harganya berkisar antara Rp 1,6 miliar hingga Rp 1,9 miliar. Dan ini bukan Speedster sembarang - ini adalah nomor satu, unit pertama yang pernah dibangun, yang digunakan Porsche untuk tur keliling dunia di pameran otomotif internasional, yang muncul di brosur resmi mereka.
Bagaimana cara membelinya tanpa harus menabung bertahun-tahun atau hidup sangat berhemat? Jawabannya sederhana namun brilian: temukan aset yang membayarnya. Sebuah proyek mini storage di Texas dibeli dengan pinjaman - utang baik. Arus kas dari properti itu kemudian membayar cicilan Porsche - utang buruk. Beberapa tahun kemudian, Porsche sudah lunas, namun arus kas dari properti itu masih terus mengalir masuk.
Hasilnya? Bukannya semakin miskin karena membeli mobil mahal, justru semakin kaya - dan mendapatkan mobil impian sekaligus. Sementara teman dengan mobil bekas seharga Rp 55 juta yang dibayar tunai itu - ia tidak menjadi lebih kaya sepeser pun dari transaksi tersebut. Ia hanya punya mobil yang menurut dirinya sendiri tidak terlalu indah, namun ia bangga tidak berutang.
Siapa yang sesungguhnya menang dalam permainan ini?
Standar hidup naik tapi kecerdasan finansial tidak ikut naik
Inilah salah satu akar masalah terbesar dalam kehidupan finansial kebanyakan orang: standar hidup mereka terus naik secara alami, namun kecerdasan finansial mereka tidak ikut berkembang. Dan itulah yang menciptakan jebakan.
Ketika Anda berusia 16 tahun, sebuah Honda Civic bekas sudah terasa seperti kemewahan. Ketika Anda berusia 25 tahun, Anda menginginkan sesuatu yang lebih baik. Ketika Anda mencapai usia 40 tahun, tentu saja standar Anda sudah jauh berbeda. Itu wajar. Itu manusiawi. Selera kita berkembang, standar kita naik. Masalahnya adalah penghasilan dan kecerdasan finansial kebanyakan orang tidak berkembang mengikuti standar hidup mereka.
Akibatnya, mereka hanya memiliki dua pilihan - dan keduanya sama-sama menyengsarakan. Pilihan pertama adalah membeli apa yang mereka inginkan dengan utang buruk: kartu kredit, cicilan mobil, hidup dari gaji ke gaji. Pilihan kedua adalah hidup di bawah kemampuan: membeli mobil yang lebih murah, rumah yang lebih kecil, pakaian dengan diskon, tetap bebas dari utang. Dan tahukah Anda? Kedua pilihan ini sama-sama menghasilkan kesengsaraan - hanya dari arah yang berbeda.
Kelompok pertama terus-menerus dilanda stres keuangan. Kelompok kedua dilanda depresi - karena setiap kali mereka menerima sesuatu yang lebih rendah dari yang sebenarnya mereka inginkan, sepotong kecil kebahagiaan mereka mati. Mereka duduk di mobil bekas yang berbau rokok pada usia 40 tahun dan berkata kepada diri sendiri, "Setidaknya saya tidak berutang." Namun mereka tidak bahagia.
Dua pilihan yang sama-sama menyengsarakan
Ada sebuah kebenaran yang keras namun perlu didengar: tidak ada yang menang dalam permainan pilihan antara berutang buruk dan hidup terlalu hemat. Keduanya adalah strategi yang kalah. Namun mengapa begitu banyak orang tidak pernah menemukan jalan ketiga?
Jawabannya terletak pada pendidikan - atau lebih tepatnya, pada ketiadaan pendidikan finansial yang benar. Sistem pendidikan formal mengajarkan kita cara mendapatkan nilai bagus, cara lulus ujian, cara mendapatkan pekerjaan yang baik. Namun tidak ada satu pelajaran pun yang secara serius mengajarkan perbedaan antara aset dan liabilitas, antara utang baik dan utang buruk, antara arus kas yang masuk dan yang keluar.
Dan dalam kekosongan pengetahuan itulah, kebanyakan orang membuat keputusan finansial berdasarkan emosi - rasa takut, rasa malu, keinginan untuk terlihat sukses, atau sekadar mengikuti apa yang tampaknya dilakukan oleh semua orang lain. Hasilnya bisa ditebak: hidup yang tidak pernah benar-benar sampai ke tingkat yang sesungguhnya bisa dicapai.
Ada pilihan ketiga - dan pilihan itulah yang dipilih oleh orang-orang kaya. Mereka belajar cara menggunakan utang baik untuk membayar utang buruk. Mereka membangun aset yang menghasilkan arus kas, lalu menggunakan arus kas itu untuk membiayai gaya hidup yang mereka inginkan - tanpa mengorbankan masa depan finansial mereka.
Hidup hemat ternyata jauh lebih mahal dalam jangka panjang
Ini mungkin terdengar sangat berlawanan dengan intuisi, namun renungkanlah dengan teliti: hidup di bawah kemampuan sebenarnya bisa jauh lebih mahal dalam jangka panjang daripada menggunakan utang dengan cerdas.
Seseorang yang membeli mobil bekas seharga Rp 55 juta dengan uang tunai mungkin merasa menang. Namun mobil bekas itu tidak akan bertahan selamanya. Tiga tahun, mungkin lima tahun, lalu ia harus membeli mobil bekas lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sepanjang hidupnya, ia menghabiskan ratusan juta rupiah untuk kendaraan-kendaraan yang tidak pernah membuatnya benar-benar bahagia - dan tidak satu pun dari pembelian itu yang pernah menghasilkan kembali uang yang sudah dikeluarkan.
Sementara itu, seseorang yang membangun aset penghasil arus kas terlebih dahulu - lalu menggunakan arus kas itu untuk membayar kendaraan yang lebih baik - justru menjadi lebih kaya setelah kendaraannya lunas, karena aset itu terus bekerja menghasilkan uang bahkan setelah hutang kendaraan selesai dibayar.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah "Berapa harga yang harus saya bayar sekarang?" melainkan "Pilihan mana yang akan membuat saya lebih kaya sepuluh tahun dari sekarang?" Itulah cara berpikir orang kaya - dan itulah cara berpikir yang perlu kita pelajari.
Emosi adalah musuh terbesar keuangan Anda
Warren Buffett pernah berkata dengan sangat tepat: jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi Anda, Anda tidak bisa mengendalikan uang Anda. Dan inilah yang perlu diakui dengan jujur - setiap keputusan finansial buruk yang pernah kita buat pada dasarnya berakar pada emosi.
Anda membeli mobil itu karena takut terlihat miskin di depan teman-teman. Anda membeli rumah itu karena ingin mengesankan orang-orang di sekitar Anda. Anda menggesek kartu kredit itu karena merasa sudah layak mendapatkan sesuatu yang mewah setelah bekerja keras. Emosi, emosi, dan emosi lagi.
Dan inilah yang membuat solusi "keluar dari utang" tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Banyak orang yang berhasil keluar dari utang buruk dengan susah payah - hanya untuk kembali terbelit utang buruk beberapa tahun kemudian. Karena masalah sesungguhnya bukan pada utangnya. Masalahnya ada pada hubungan mereka dengan uang, pada tingkat kecerdasan finansial mereka, dan pada kemampuan mereka mengendalikan emosi ketika keputusan finansial harus dibuat.
Utang buruk adalah gejala. Bukan penyakitnya. Menyembuhkan gejala tanpa mengobati penyakitnya hanya akan membuat gejala yang sama kembali muncul dalam bentuk yang berbeda. Penyembuhan sejati hanya bisa terjadi ketika seseorang bersedia untuk jujur melihat pola pikir dan pola emosi mereka sendiri dalam kaitannya dengan uang - dan mulai mengubahnya dari dalam.
Bermain di permainan yang berbeda dengan aturan yang berbeda
Pada akhirnya, ini adalah soal permainan mana yang Anda putuskan untuk dimainkan. Ada orang yang bangga dengan mobil seharga Rp 55 juta yang dibeli tunai tanpa utang. Ada pasangan yang tenggelam dalam tagihan kartu kredit untuk barang-barang yang bahkan tidak lagi mereka gunakan. Dan ada orang-orang kaya yang diam-diam meminjam jutaan dan semakin makmur setiap harinya.
Dunia yang sama. Namun aturan yang berbeda.
Orang kaya tidak membuat keputusan berdasarkan rasa takut atau rasa malu. Mereka membuat keputusan berdasarkan kecerdasan - mereka memahami perbedaan antara aset dan liabilitas, mereka memahami arus kas, mereka menghormati kekuatan utang seperti menghormati senjata yang terisi peluru. Dan mereka menggunakan semua pemahaman itu untuk terus tumbuh secara finansial.
Pilihan selalu ada di tangan Anda. Namun pahamilah ini: setiap pilihan memiliki harga yang harus dibayar. Memilih untuk tetap ignorant tentang cara kerja uang juga memiliki harga - dan harga itu dibayar dalam bentuk kehidupan yang selalu terasa kurang, selalu terasa sempit, selalu terasa seperti berjalan di tempat meskipun sudah berlari sekencang mungkin.
Orang miskin memilih satu dari dua jalan: menyangkal diri dan tetap tidak bahagia, atau berfoya-foya dan bangkrut. Orang kaya memilih jalan ketiga: mereka mempelajari aturan mainnya. Mereka belajar cara menggunakan utang baik untuk membayar utang buruk. Mereka belajar mengendalikan emosi dalam pengambilan keputusan finansial. Mereka belajar menghormati kekuatan uang.
Dan begitu Anda melihatnya - begitu pemahaman itu masuk dan menetap di dalam cara berpikir Anda - Anda tidak akan bisa pura-pura tidak melihatnya lagi. Anda akan mulai melihatnya di mana-mana: pria yang bangga dengan mobilnya yang tidak berutang, pasangan yang tenggelam dalam cicilan untuk barang yang tidak lagi mereka butuhkan, dan orang-orang kaya yang dengan tenang terus meminjam dan terus bertumbuh.