Tottenham Akhiri Rentetan Tanpa Kemenangan
Tottenham Hotspur akhirnya meraih kemenangan pertama di Liga Inggris musim 2026/2027 setelah menundukkan Coventry City dengan skor 3-1 di Tottenham Hotspur Stadium, Senin, 19 Oktober 2026. Hasil ini mengakhiri periode tanpa kemenangan Tottenham dalam enam pertandingan pembuka liga dan membawa klub London tersebut keluar dari zona tiga terbawah klasemen.
Reuters melaporkan bahwa kemenangan ini memberikan kelegaan bagi pelatih Tottenham, Roberto De Zerbi, yang menghadapi tekanan setelah timnya menjalani awal musim yang sulit. Sebelum pertandingan melawan Coventry, Tottenham mencatat tiga kekalahan dan tiga hasil imbang di liga.
Kemenangan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan persoalan yang dihadapi Tottenham. Namun, kemampuan tim mempertahankan keunggulan hingga akhir pertandingan menjadi perkembangan positif setelah serangkaian hasil yang mengecewakan. Tottenham naik ke posisi ke-16 dengan enam poin dari tujuh pertandingan, sedangkan Coventry berada satu tingkat di bawahnya.
James Maddison Kembali dan Langsung Mencetak Gol
Salah satu cerita utama pertandingan ini adalah kembalinya James Maddison ke susunan pemain inti Tottenham. Ia menjalani penampilan sebagai starter pertamanya setelah absen panjang akibat cedera, dengan jarak sekitar 536 hari sejak terakhir kali memulai pertandingan untuk klub tersebut.
Maddison langsung memberikan dampak melalui gol pembuka pada menit ke-14. Ia menerima bola dalam rangkaian serangan yang dibangun Tottenham, kemudian melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke sudut atas gawang dan tidak mampu dijangkau penjaga gawang Coventry, Carl Rushworth.
Gol tersebut memperlihatkan kualitas teknik Maddison sekaligus memberikan dorongan psikologis bagi Tottenham. Setelah menjalani proses pemulihan yang panjang, gelandang Inggris itu kembali tampil sejak awal dan membantu timnya membangun keunggulan.
The Guardian mencatat bahwa Maddison tidak hanya berkontribusi melalui gol. Ia juga terlibat dalam sejumlah pergerakan menyerang dan menunjukkan kesediaan untuk membantu pertahanan ketika Coventry mencoba melancarkan serangan balik.
Meski demikian, keunggulan satu gol belum membuat Tottenham sepenuhnya menguasai pertandingan. Tim tuan rumah masih kesulitan menciptakan peluang bersih secara konsisten, sementara Coventry tetap berusaha memanfaatkan ruang yang tersedia.
Coventry Menyamakan Kedudukan
Setelah tertinggal pada babak pertama, Coventry meningkatkan tekanan seusai jeda. Upaya mereka membuahkan hasil pada menit ke-49 ketika Jack Rudoni mencetak gol penyama kedudukan.
Serangan tersebut bermula dari situasi ketika Tottenham kehilangan penguasaan bola di area pertahanan. Rudoni membawa bola ke depan, bertukar umpan dengan Caleb Yirenkyi, lalu kembali memperoleh kesempatan untuk menembak. Upaya pertamanya tidak langsung menghasilkan gol, tetapi ia berhasil menguasai kembali bola sebelum melepaskan tembakan yang melewati penjaga gawang Tottenham, Antonín Kinský.
Gol itu membuat pertandingan kembali terbuka dan meningkatkan tekanan terhadap Tottenham. Jika gagal meraih kemenangan, Spurs berisiko kembali kehilangan poin meskipun sempat memimpin lebih dahulu.
Tottenham kemudian berusaha meningkatkan intensitas permainan. Sandro Tonali mencoba memberikan ancaman melalui tembakan dari luar kotak penalti, sementara lini tengah tuan rumah berupaya mempercepat distribusi bola untuk mengurangi kesempatan Coventry membangun serangan balik.
Omar Marmoush Membawa Tottenham Kembali Unggul
Tottenham kembali memimpin pada menit ke-58 melalui Omar Marmoush. Penyerang asal Mesir tersebut menerima bola, melakukan putaran untuk mencari ruang, kemudian melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang mengarah ke sudut gawang.
Gol tersebut merupakan gol pertama Marmoush untuk Tottenham sejak bergabung dengan klub itu dari Manchester City pada musim panas. Penyelesaian akhirnya menjadi momen penting karena mengembalikan keunggulan tuan rumah ketika pertandingan sedang berlangsung ketat.
Namun, gol itu juga memunculkan kontroversi. Menurut laporan The Guardian, Marmoush terlihat mengenai wajah bek Coventry, Milan van Ewijk, dengan sikunya dalam rangkaian kejadian sebelum tembakan dilepaskan. Wasit Andrew Madley membiarkan permainan berlanjut, sedangkan wasit video atau VAR tidak membatalkan gol tersebut.
Pemain Coventry memprotes keputusan itu, tetapi gol tetap disahkan. Situasi tersebut menjadi salah satu momen paling diperdebatkan dalam pertandingan, meskipun tidak mengubah hasil akhir.
Setelah kembali unggul, Tottenham menghadapi tekanan dari Coventry yang berusaha mencetak gol penyama kedudukan. Tim tuan rumah harus menjaga konsentrasi di lini belakang agar keunggulan yang telah diperoleh tidak kembali hilang.
Ben Davies Memastikan Tiga Poin
Ketegangan baru benar-benar mereda pada menit ke-90+6. Ben Davies, yang masuk sebagai pemain pengganti, melepaskan tembakan rendah dari luar kotak penalti dan mencetak gol ketiga Tottenham.
Gol tersebut memastikan kemenangan 3-1 sekaligus mengakhiri peluang Coventry untuk menyamakan kedudukan. Tambahan waktu menjadi periode penting bagi Tottenham karena tim itu berhasil mengubah keunggulan tipis menjadi kemenangan dengan selisih dua gol.
Pertandingan juga ditandai oleh kembalinya Dejan Kulusevski. Pemain asal Swedia tersebut masuk pada menit-menit akhir setelah absen sekitar 526 hari akibat cedera lutut. Kehadirannya disambut positif oleh para pendukung Tottenham, yang telah lama menantikan kembalinya pemain kreatif tersebut.
Kembalinya Maddison dan Kulusevski memberikan tambahan pilihan bagi De Zerbi dalam membangun permainan menyerang. Meski keduanya masih harus menjalani proses untuk kembali ke kondisi terbaik, penampilan mereka menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan dari pertandingan ini.
Kemenangan Penting, tetapi Tantangan Belum Selesai
Secara statistik, Tottenham mencatat penguasaan bola sebesar 64%, berbanding 36% milik Coventry. Kedua tim sama-sama melepaskan 11 tembakan yang tidak tepat sasaran, tetapi Tottenham unggul dalam tembakan tepat sasaran dengan lima berbanding satu.
Data tersebut menunjukkan bahwa Tottenham mampu menguasai bola dan menghasilkan lebih banyak tembakan yang mengarah ke gawang. Namun, jalannya pertandingan juga memperlihatkan bahwa dominasi penguasaan bola tidak selalu berarti kemenangan akan diraih dengan mudah.
Bagi De Zerbi, hasil ini memberikan kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan diri tim setelah awal musim yang mengecewakan. Kembalinya sejumlah pemain penting juga dapat membantu memperkuat pilihan taktiknya dalam pertandingan berikutnya.
Tottenham selanjutnya perlu menunjukkan konsistensi agar kemenangan atas Coventry tidak menjadi hasil positif yang berdiri sendiri. Sementara itu, Coventry harus memperbaiki efektivitas pertahanan setelah gagal mempertahankan kedudukan imbang pada babak kedua.
Kemenangan 3-1 ini menjadi langkah awal bagi Tottenham untuk memperbaiki posisi di klasemen Liga Inggris. Akan tetapi, persoalan konsistensi, ketajaman serangan, dan kestabilan pertahanan masih perlu dijawab dalam pertandingan-pertandingan berikutnya.
Sumber: Reuters, The Guardian, Sky Sports.