Mitos Yunani Kuno kembali naik daun. Lewat adegan kuda Troya yang ikonik, film blockbuster “The Odyssey” karya Christopher Nolan mengingatkan penonton pada bahaya yang bersembunyi di balik hadiah tak terduga. Kini, para pemimpin industri dan politik tampak memainkan lakon serupa: menyodorkan kecerdasan buatan (AI) sebagai “deus ex machina”, sosok mahakuasa yang tiba-tiba muncul untuk menuntaskan persoalan masyarakat.
Bagaimana persisnya AI superpintar akan menyelamatkan umat manusia bergantung pada siapa yang ditanya. Para bos perusahaan teknologi dan kepala negara sama-sama terlibat persaingan sengit, baik demi dominasi pasar maupun supremasi geopolitik. OpenAI dan Google DeepMind membayangkan AI mengubah wajah dunia kerja atau memberantas penyakit. Gedung Putih berharap meraup keuntungan ekonomi dan militer yang besar jika memenangi perlombaan AI global. Jurnalis Evan Osnos, yang meliput persaingan Amerika-Tiongkok, mencatat bahwa para pemimpin Tiongkok telah menyisipkan AI ke industri maupun kehidupan keluarga, sementara pejabat AS mendambakan potensi transformatif kecerdasan umum buatan (AGI).
Meski tujuannya berbeda, narasi penuh percaya diri tentang juru selamat teknologi itu tampaknya tak meyakinkan warga di kedua negara.
Survei Gallup menunjukkan warga Amerika menilai AI lebih banyak merugikan daripada menguntungkan dan memperkirakan teknologi ini akan menghilangkan lapangan kerja. Mereka tidak percaya pada perusahaan maupun pemerintah untuk mengelola AI secara bertanggung jawab. Mereka juga khawatir AI akan mengikis kemampuan manusia, seperti kreativitas dan pengambilan keputusan.
Di Tiongkok, penggunaan sehari-hari mungkin telah meningkatkan penerimaan terhadap AI, meski dilatarbelakangi kecemasan akan pekerjaan. Para pemimpin Tiongkok barangkali memandang AI sebagai “solusi ajaib” bagi persoalan sosial dan ekonomi, tetapi para pekerja justru cemas AI merebut pekerjaan, bahkan identitas mereka.
Ketidakpercayaan ini wajar. Plot yang muncul di menit-menit akhir hanya masuk akal bila didahului rangkaian peristiwa yang logis. Namun AI kerap disajikan sebagai alat tumpul yang memakai agen mesin untuk menyingkirkan kendali manusia dan melanggar aturan main yang telah disepakati. Akibatnya, kepercayaan penonton terhadap cerita dan para pencerita ikut runtuh.
Ambil contoh keyakinan bahwa siapa pun yang bekerja keras dan patuh aturan akan sukses. Keyakinan itu kian sulit dipercaya ketika perusahaan lebih dulu mewajibkan karyawan memakai AI, lalu memecat mereka dengan dalih AI membuat posisi mereka tak lagi dibutuhkan.
Tak heran bila anak-anak muda menanggalkan janji karier tradisional yang kini terasa patah. Kekhawatiran akan ketidakpastian pun turut mendorong turunnya angka pernikahan dan kelahiran, baik di Tiongkok maupun Amerika Serikat.
Sayangnya bagi masa depan mereka, perlombaan senjata AI nyaris tak menunjukkan tanda melambat. Bahkan saat menyerukan kerja sama lintas industri, CEO Anthropic Dario Amodei turut menguatkan narasi perlombaan global yang bersifat zero-sum dengan mengingatkan agar AI tidak jatuh ke tangan kekuatan otoriter.
Perlombaan senjata bukan hal baru, begitu pula ketakutan yang menyertainya. Ancaman kehancuran nuklir pada era Perang Dingin memicu rasa tak berdaya dan kecemasan luas. Kini, sebagian orang dalam industri sendiri mengaku waswas: AI yang cukup kuat untuk menyelamatkan umat manusia bisa pula menghancurkannya.
Menggambarkan AI sebagai campur tangan ilahi tampaknya memikat para pembuatnya. Mereka menyatakan misi melayani kemanusiaan, memperingatkan bahwa ciptaan mereka bisa menyelamatkan atau mencelakakan kita, dan meramalkan kedatangannya yang tak terelakkan. Apa pun keyakinan mereka, mentalitas kompetitif dan insentif finansial raksasa terus mendorong mereka memacu produk, meski banyak orang telah muak dengan kisah juru selamat teknologi.
Pemimpin yang sungguh ingin AI bermanfaat bagi masyarakat semestinya tidak memperlakukannya sebagai kekuatan eksternal yang dipakai terhadap atau melawan kita. Industri perlu mengakui bukan hanya perannya sendiri dalam menentukan arah pengembangan AI, tetapi juga peran publik dalam memutuskan cara pemakaiannya. Alih-alih berlindung di balik dalih kemunculan superintelijen yang tak terhindarkan, para pengembang harus menyadari bahwa pilihan mereka menentukan alat apa yang dibuat dan untuk siapa.
Para pemimpin politik pun perlu mengakui rendahnya kepercayaan publik terhadap cara AI diintegrasikan ke dalam kehidupan. Daripada mengejar solusi ajaib berbasis AI, mereka sebaiknya bekerja bersama pakar dan warga untuk menentukan kapan AI layak digunakan, sebagai salah satu alat di antara banyak alat, guna menjawab persoalan yang diperhatikan publik, seperti keadilan dan keterjangkauan.
Mundur dari perlombaan senjata AI bisa ditempuh lewat kerja sama industri dan mekanisme politik, misalnya membuka dialog atau membangun saluran hotline AI dengan Tiongkok. Namun, perubahan yang langgeng, seperti dikemukakan ilmuwan komputer ternama Yoshua Bengio, mungkin memerlukan tekanan publik kepada pemimpin industri dan pemerintah agar mereka sadar bahwa berebut keunggulan justru merusak nasib bersama.
Hanya dengan bersuara dan merebut kembali kendali, para pemimpin akan mau mendengar dan bekerja bersama kita sehingga teknologi dikembangkan, dikelola, dan diarahkan oleh orang-orang yang hendak dilayaninya.
Dalam kisah seperti “The Odyssey”, dewa kerap tampil dalam wujud manusia. Penonton mengira mengenali sesama manusia, padahal kemampuan dan niat sejati sang dewa tersembunyi. Mereka yang menggambarkan AI sebagai penyelamat yang turun dari langit telah memberi audiens banyak alasan untuk skeptis terhadap “dewa dalam mesin” terbaru ini.
Artikel ini diadaptasi dari opini USA Today. Douglas Yeung adalah psikolog sosial yang meneliti teknologi dan masyarakat. Ia sedang menulis buku tentang pola pikir insinyur dan bagaimana pola pikir itu mendominasi cara kita hidup.