Brent, patokan internasional, sempat melewati US$ 117 per barel sebelum turun kembali dan menetap di US$ 116,72. Kenaikan itu terjadi ketika investor menilai risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah serangan Houthi di Arab Saudi dan kekhawatiran kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Reuters melaporkan harga Brent naik US$ 3,55 atau 3,14% pada hari itu, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada US$ 103,27, naik US$ 3,80 atau 3,8%.
Brent mengakhiri pekan dengan kenaikan sekitar 6%, sementara WTI naik 2,3%.
Lonjakan minyak tersebut beriringan dengan penurunan indeks saham utama. Reuters mencatat indeks saham Amerika dan Eropa melemah pada penutupan Jumat, meskipun saham teknologi mulai stabil setelah penjualan besar sehari sebelumnya. Associated Press (AP) melaporkan S&P 500 turun 0,5% menjadi 7.623,68, Dow Jones Industrial Average merosot 1,2% ke 52.215,16, dan Nasdaq Composite turun 0,2% ke 25.955,34. S&P 500 mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut. Hampir tiga dari empat saham di dalam indeks itu berakhir lebih rendah, menandakan tekanan tidak terbatas pada satu sektor saja.
Risiko pasokan menjadi perhatian utama
Kenaikan harga minyak berkaitan dengan kekhawatiran bahwa keamanan jalur pengiriman dan fasilitas energi di kawasan Teluk dapat memburuk. Reuters menyebut serangan Houthi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Otoritas Uni Emirat Arab juga melaporkan tumpahan minyak, menambah ketidakpastian di tengah situasi keamanan yang sudah rapuh. Di pasar, sektor energi S&P 500 justru naik 2,5% dan mencapai rekor tertinggi, sementara perusahaan minyak besar ikut menguat.
The Guardian melaporkan Brent sempat naik sekitar 3,5% dan menembus US$ 117, level tertinggi sejak April. Harga kemudian turun sedikit, tetapi masih berada di atas US$ 116. Media itu mengaitkan kenaikan dengan pernyataan Teheran bahwa fasilitas minyak, kabel bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran jika serangan baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terjadi. Laporan tersebut juga menyebut Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang empat kapal komersial di Selat Hormuz pada Rabu. Klaim itu merupakan pernyataan pihak Iran, bukan verifikasi independen atas seluruh detail serangan.
Washington, menurut laporan Guardian, memerintahkan sebagian diplomat dan keluarga pegawai pemerintah Amerika meninggalkan Arab Saudi, yang juga menghadapi serangan berulang Houthi dari Yaman. Kekhawatiran pasar bukan hanya tentang produksi minyak, tetapi juga keamanan kapal tanker dan jalur pelayaran. Jika perjalanan melalui Selat Hormuz menjadi lebih berisiko, biaya pengiriman, asuransi, dan waktu perjalanan dapat meningkat, sementara pembeli energi akan memperhitungkan kemungkinan pasokan terlambat. Reuters juga menyebut konflik dan risiko pasokan sebagai faktor yang mendorong harga minyak naik.
Dampak terhadap inflasi dan suku bunga
Harga energi yang tinggi dapat merambat ke biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. AP menyoroti bahwa perang Amerika Serikat dengan Iran telah mengurangi pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan biaya mulai dari bensin hingga makanan dan pakaian. Bagi rumah tangga, harga bahan bakar yang naik mengurangi daya beli; bagi perusahaan, biaya logistik dan input dapat menekan margin, terutama jika mereka tidak mampu meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada pelanggan.
Pasar obligasi juga menunjukkan kekhawatiran inflasi. Reuters mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,99%, sedangkan AP menyebutnya bergerak dari 4,96% pada akhir Kamis. Investor menilai minyak mahal dapat membuat inflasi bertahan lebih lama dan mempersulit bank sentral menurunkan suku bunga. AP melaporkan pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan berikutnya, tetapi peluang kenaikan pada Desember semakin diperhitungkan. Itu merupakan ekspektasi pasar, bukan keputusan resmi bank sentral.
Investor juga menimbang biaya AI
Selain energi, saham teknologi masih dibayangi pertanyaan tentang besarnya belanja kecerdasan buatan dan kapan investasi tersebut menghasilkan keuntungan. AP menyebut perusahaan yang membangun infrastruktur AI menghadapi biaya awal besar dan ketidakpastian waktu pengembalian modal. Reuters melaporkan indeks semikonduktor dan sektor teknologi S&P 500 masing-masing naik 0,4% pada Jumat setelah penurunan tajam sehari sebelumnya. Namun, perhatian investor beralih ke laporan keuangan Alphabet, Microsoft, dan Amazon yang dijadwalkan pekan berikutnya, khususnya rencana belanja modal untuk pusat data dan layanan AI.
Di Eropa, Reuters melaporkan indeks STOXX 600 turun 0,31% menjadi 635,77 pada Jumat dan melemah sekitar 1,4% selama pekan tersebut. Kecemasan terhadap harga minyak bergabung dengan ketidakpastian politik dan fiskal Prancis serta laporan laba perusahaan yang beragam. Dengan demikian, pasar menghadapi beberapa risiko sekaligus: pasokan energi yang rentan, tekanan inflasi, biaya pinjaman tinggi, dan pertanyaan tentang valuasi saham teknologi.
Pergerakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan keamanan di Timur Tengah, kondisi jalur pelayaran, dan data ekonomi serta laporan laba yang akan datang. Untuk saat ini, harga minyak di atas US$ 116 menjadi sinyal bahwa risiko geopolitik kembali memengaruhi keputusan investor, sementara penurunan indeks saham menunjukkan pasar belum yakin bahwa tekanan tersebut akan segera mereda.
Sumber: Reuters, Associated Press, The Guardian.