Jakarta – Kementerian Kesehatan mencatat total 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia sejak 2024 hingga pertengahan Mei 2026. Kasus tersebut tersebar di 9 provinsi dengan tiga di antaranya berujung kematian (Kemenkes).
Data surveilans menunjukkan peningkatan signifikan, Tahun 2024 hanya tercatat satu kasus. Angka melonjak menjadi 17 kasus sepanjang 2025, dan hingga minggu kedua Mei 2026 sudah ada lima kasus baru.
(Ditjen P2 Kemenkes).
Apa itu Surveilans?
Surveilans adalah sebuah proses pemantauan yang dilakukan secara sistematis, terus-menerus, dan terencana terhadap suatu masalah kesehatan atau fenomena dalam masyarakat.
Secara umum, surveilans bertujuan untuk menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu agar dapat diambil tindakan pencegahan atau pengendalian yang efektif. Berikut adalah beberapa elemen kunci dari surveilans:
Pengumpulan Data: Mengumpulkan data terkait kejadian penyakit, faktor risiko, atau status kesehatan secara rutin.
Analisis dan Interpretasi: Mengolah data tersebut untuk melihat tren, pola, atau adanya lonjakan kasus (seperti munculnya wabah).
Diseminasi Informasi: Menyebarkan hasil analisis kepada pihak-pihak terkait, seperti pembuat kebijakan (Kemenkes) atau tenaga medis, agar bisa segera ditindaklanjuti.
Tujuan Aksi: Bukan sekadar mengumpulkan data, surveilans dilakukan untuk memicu tindakan nyata, misalnya peningkatan kewaspadaan atau kampanye vaksinasi.
Wilayah dengan temuan terbanyak adalah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta, diikuti beberapa provinsi lain di Jawa dan luar Jawa.Hantavirus yang beredar di Indonesia mayoritas merupakan tipe Seoul virus yang menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Gejala awal yang muncul biasanya demam tinggi mendadak, nyeri otot berat terutama di punggung dan paha, sakit kepala, mual, serta kelelahan ekstrem. Dalam beberapa hari, kondisi dapat memburuk menjadi gangguan pernapasan, penurunan tekanan darah, dan kerusakan ginjal akut (RSCM).
Penularan utama terjadi melalui kontak tidak langsung dengan hewan pengerat, terutama tikus. Virus tersebar lewat aerosol urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Kontak langsung saat membersihkan ruangan yang tercemar tanpa alat pelindung diri juga berisiko tinggi. Masa inkubasi virus ini bisa mencapai 1 hingga 8 minggu (WHO).
Berbeda dengan varian Andes di Amerika Selatan yang memiliki potensi penularan terbatas antarmanusia, strain Seoul di Indonesia tidak menunjukkan transmisi manusia ke manusia yang signifikan. Namun demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan menyusul adanya klaster kasus di kapal pesiar Eropa baru-baru ini (Jakarta Post).
Penelitian seroprevalensi di beberapa kota besar menunjukkan tingkat paparan virus di masyarakat mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya banyak orang mungkin pernah terpapar tanpa menunjukkan gejala berat. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang dapat menjadi reservoir virus ini. Faktor risiko semakin tinggi di daerah dengan sanitasi buruk, tumpukan sampah, dan pemukiman padat (Lembaga Biologi Molekuler Eijkman).
Pemerintah telah menyiapkan 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi untuk memperkuat deteksi dini. Fasilitas-fasilitas tersebut dilengkapi dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan tes serologi. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, petugas karantina kesehatan meningkatkan skrining penumpang dari negara yang melaporkan kasus aktif (Kementerian Kesehatan).
Tidak ada pengobatan antivirus spesifik untuk hantavirus. Penanganan pasien bersifat suportif, meliputi pemberian cairan, oksigen, dan dialisis ginjal jika diperlukan. Tingkat kematian kasus (CFR) di Indonesia tercatat sekitar 13 persen, lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain dengan strain yang lebih virulen.Masyarakat diminta aktif menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan utama.
Beberapa langkah konkret yang dianjurkan meliputi:Menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup rapat:
- Membersihkan rumah secara rutin menggunakan disinfektan
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi tikus
- Menutup lubang-lubang potensial masuknya hewan pengerat
- Melakukan deratisasi secara berkala di lingkungan padat penduduk (Dinkes DKI Jakarta)
Hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia, namun diagnosis sering tertunda karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, atau infeksi saluran pernapasan akut. Peningkatan kasus di 2025 menunjukkan perlunya penguatan surveilans berkelanjutan di tengah urbanisasi cepat dan perubahan iklim yang berpotensi meningkatkan kontak manusia dengan reservoir hewan.Hingga saat ini dari 23 kasus konfirmasi, 20 pasien berhasil sembuh dengan penanganan medis yang tepat.
Meski demikian, tiga kematian yang tercatat menjadi pengingat bahwa virus ini tetap berbahaya, terutama bagi lansia dan penderita penyakit komorbid.Kementerian Kesehatan terus memperbarui pedoman pencegahan dan protokol penanganan di fasilitas kesehatan. Kolaborasi antarlembaga pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama menekan risiko hantavirus ke depan.