Wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diguncang gempa bumi pada Selasa, 6 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bermagnitudo 4,6 terjadi di sekitar Kodi pada Selasa dini hari. Gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian aktivitas kegempaan yang muncul setelah gempa bermagnitudo 6,1 mengguncang wilayah Sumba Barat Daya pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi BMKG yang dikutip ANTARA, gempa Magnitudo 4,6 terjadi pada pukul 04.40 WIB atau 05.40 WITA. Episenternya berada pada koordinat 9,72 derajat Lintang Selatan dan 118,96 derajat Bujur Timur, sekitar 14 kilometer dari Kodi, Sumba Barat Daya. Gempa tersebut memiliki kedalaman 19 kilometer dan dinyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Gempa terbaru tersebut terjadi hanya sekitar setengah jam setelah gempa lain bermagnitudo 3,5 mengguncang wilayah yang sama. Gempa M 3,5 tercatat terjadi sekitar pukul 04.13 WIB atau 05.13 WITA dengan pusat gempa berada pada koordinat 9,77 derajat Lintang Selatan dan 118,91 derajat Bujur Timur. Kedalamannya mencapai 14 kilometer.
Dengan munculnya dua gempa pada Selasa dini hari, aktivitas seismik di wilayah Kodi masih menjadi perhatian. BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan gempa di wilayah tersebut. Informasi awal BMKG juga mencantumkan bahwa parameter gempa dapat mengalami perubahan seiring proses pengolahan data yang semakin lengkap.
Rangkaian Gempa Setelah Magnitudo 6,1
Gempa terbaru ini terjadi setelah gempa bermagnitudo 6,1 mengguncang Sumba Barat Daya pada Minggu, 4 Oktober 2026. Gempa utama tersebut terjadi sekitar pukul 06.55 WITA dan berpusat di laut, sekitar 14 kilometer barat daya Kodi.
Menurut laporan Liputan6 yang mengutip data BNPB, gempa M 6,1 tersebut menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan. Pendataan sementara mencatat 20 rumah terdampak di Kabupaten Sumba Barat Daya. Dari jumlah tersebut, 19 rumah mengalami rusak ringan dan satu rumah mengalami rusak sedang. Kerusakan tersebar di Desa Waikadada, Weerena, Bondo Kodi, dan Homba Karipit.
Selain rumah warga, tiga fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan. Bangunan yang terdampak antara lain Gereja Pantekosta Victory Billa Cenge, Gereja Pantekosta Jata Ngedo Bila Cenge, dan Gereja Katedral Waitabula.
Satu fasilitas pendidikan, yakni SDK Manu Toghi, juga terdampak. Selain itu, Balai KB Desa Wallandimu dilaporkan mengalami kerusakan. Di Kabupaten Sumba Barat, tiga rumah atau asrama koramil mengalami kerusakan ringan, sementara dua bangunan KDKMP mengalami kerusakan pada plafon dan retakan tembok.
Puluhan Gempa Susulan Tercatat
Aktivitas gempa tidak berhenti setelah gempa utama. ANTARA melaporkan BMKG mencatat sedikitnya 62 gempa bumi susulan sejak gempa M 6,1 pada Minggu hingga Senin, 5 Oktober 2026 pukul 08.05 WIB. Magnitudo gempa susulan tersebut berada pada kisaran 1,5 hingga 4,3.
Setelah data tersebut dicatat, aktivitas kegempaan masih berlanjut. Gempa M 4,8 juga tercatat mengguncang Sumba Barat Daya pada Minggu malam, 4 Oktober, sekitar pukul 22.59 WITA. Gempa tersebut berpusat di laut sekitar 13 kilometer selatan Kodi dengan kedalaman 21 kilometer dan dirasakan di Tambolaka serta Waingapu.
Kemunculan gempa M 4,6 pada Selasa pagi menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih mengalami aktivitas seismik setelah gempa utama. Namun, keberadaan gempa susulan tidak berarti bahwa gempa besar berikutnya pasti akan terjadi. Penilaian mengenai perkembangan aktivitas gempa harus merujuk pada pemantauan dan analisis BMKG.
Penanganan dan Kondisi Warga
Setelah gempa utama, pemerintah daerah bersama unsur terkait melakukan pemantauan terhadap wilayah terdampak. Liputan6 melaporkan BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya dan BPBD Kabupaten Sumba Barat melakukan pemantauan kondisi pascagempa.
Personel Kodim 1613/Sumba Barat dan Kodim 1629/Sumba Barat Daya juga dilibatkan dalam pemantauan. Aparat kewilayahan dan babinsa melakukan pendataan kerusakan di lapangan. Posko awal penanganan bencana didirikan di Lapangan Makodim 1629/Sumba Barat Daya.
Sebanyak 173 personel disiagakan untuk mendukung pemantauan dan penanganan jika diperlukan. Jumlah tersebut terdiri atas 30 personel Kodim 1613/Sumba Barat, 68 personel Kodim 1629/Sumba Barat Daya, dan 75 personel Yonif TP 930/TT.
Untuk gempa M 4,6 yang terjadi Selasa dini hari, hingga laporan ANTARA diterbitkan belum ada informasi dari BMKG mengenai kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut. Status tidak berpotensi tsunami juga telah disampaikan berdasarkan parameter gempa yang diterima.
Masyarakat di wilayah Sumba Barat Daya tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah, terutama karena aktivitas gempa susulan masih tercatat. Warga juga diimbau tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai prediksi gempa berikutnya.
Rangkaian gempa di Sumba Barat Daya kini menjadi perhatian karena terjadi dalam beberapa hari setelah gempa M 6,1. Dengan adanya kerusakan bangunan dan gempa susulan yang masih berlangsung, pemantauan kondisi lapangan serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko apabila terjadi guncangan berikutnya.
Sumber: AntaraNews, Liputan6