Dukung Login

Harga Minyak Dunia Anjlok 5%, Rupiah Melemah ke Rp17.725 per Dolar AS

🌐 25 May 2026
👁 39 Views | X

Harga Minyak Dunia Anjlok 5%, IHSG Bertahan Hijau, Rupiah Melemah ke Rp17.725 per Dolar AS


Palembang - Pasar keuangan Indonesia membuka perdagangan pekan ini dengan dinamika yang cukup kompleks. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan tipis meski diterpa sejumlah tekanan dari dalam dan luar negeri. Hingga pukul 10.30 WIB, IHSG tercatat menguat 0,27% atau naik sekitar 18 poin dan bertengger di level 6.178,09 - sebuah pencapaian yang dinilai cukup tangguh di tengah berbagai sentimen negatif yang mengepung pasar.


Penguatan ini terbilang mengejutkan sejumlah analis. Sebelum perdagangan dibuka, banyak pelaku pasar memperkirakan IHSG berpotensi terkoreksi dengan level support di 5.899 dan resistance di 6.459. Nyatanya, indeks justru mampu bertahan di zona hijau meskipun sempat melemah sesaat setelah pembukaan.




Tekanan dari FTSE Russell: Empat Saham Indonesia Disingkirkan


Salah satu sentimen negatif yang paling disorot pelaku pasar hari ini berasal dari keputusan FTSE Russell, penyedia indeks investasi global terkemuka. Dalam pengumuman June 2026 Quarterly Review yang dirilis pada Sabtu, 23 Mei 2026, FTSE Russell secara resmi menghapus empat saham Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series (FGEIS).

Keempat saham yang dikeluarkan tersebut adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari segmen saham berkapitalisasi besar, serta tiga saham berkapitalisasi lebih kecil yakni PT Dasa Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hilcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). Rebalancing portofolio ini akan dieksekusi pada 19 Juni 2026 dan berlaku efektif penuh pada 22 Juni 2026.


Alasan di balik keputusan ini cukup serius. FTSE Russell menilai keempat emiten tersebut memiliki kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi, tidak memenuhi batas minimal saham beredar (free float), serta masuk dalam daftar pengawasan khusus bursa. Keputusan ini berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar modal Indonesia, mengingat FTSE Global Equity Index Series menjadi salah satu acuan utama bagi manajer investasi global kelas dunia seperti BlackRock dan Vanguard, serta sejumlah dana pensiun asing berskala besar.

Meski demikian, para analis menilai dampak langsung terhadap IHSG relatif terbatas. Mayoritas saham yang dikeluarkan bukan termasuk saham likuid atau berkapitalisasi besar, sehingga tekanannya cenderung bersifat jangka pendek dan tidak akan memberikan guncangan fundamental bagi bursa.




Harga Minyak Ambruk 5%: Sinyal Positif dari Selat Hormuz


Di sisi lain, kabar yang datang dari geopolitik Timur Tengah justru memberikan angin segar bagi pasar global. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Selat Hormuz - jalur pelayaran vital yang menjadi lintasan sekitar 20% pasokan minyak dunia - berpeluang segera dibuka kembali setelah sebelumnya terancam oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.


Pernyataan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkuat sinyal tersebut. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan tertib dan konstruktif. Trump juga menambahkan bahwa dirinya telah meminta para perwakilannya untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan, karena menurutnya waktu berada di pihak Amerika Serikat.


Pasar merespons pernyataan tersebut dengan cepat. Harga minyak mentah dunia langsung terjun bebas sekitar 5% dalam satu sesi perdagangan. Harga minyak jenis Brent, yang menjadi acuan internasional, kini berada di bawah 100 dolar AS per barel - level psikologis yang sangat dinantikan pasar. Sementara minyak jenis WTI (West Texas Intermediate) berada di level 92 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak ini pada dasarnya merupakan kabar baik bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, karena berpotensi menekan inflasi dan mengurangi beban subsidi energi.




Pergerakan Sektoral IHSG: Transportasi Melambung, Energi Tertekan


Dinamika harga minyak ini tercermin jelas dalam pergerakan sektoral IHSG. Sektor energi mencatat penurunan paling tajam, yakni kontraksi hampir 2% atau tepatnya minus 1,93%. Sektor bahan baku juga ikut tergerus, melemah 1,3%. Sektor konsumer primer pun tak luput dari tekanan dengan penurunan 0,4%.

Namun di sisi lain, sejumlah sektor mencatat kinerja yang mengesankan. Sektor transportasi menjadi yang paling menonjol dengan lonjakan fantastis hingga 3,45% - kemungkinan besar terdorong oleh ekspektasi bahwa turunnya harga bahan bakar akan memangkas biaya operasional industri ini. Sektor konsumer non-primer menguat signifikan sebesar 1,29%, diikuti sektor finansial yang naik 0,79% dan sektor properti yang terapresiasi 0,7%. Sektor perindustrian, infrastruktur, teknologi, dan kesehatan juga kompak berada di zona hijau meski dengan penguatan yang lebih moderat, masing-masing mencatat kenaikan 0,36%, 0,1%, 0,15%, dan 0,35%.




Bursa Asia Sepi, Nikkei Cetak Rekor Sepanjang Masa


Dari kawasan Asia, perdagangan hari ini terpantau relatif sepi. Sejumlah bursa utama di kawasan ini tutup akibat perayaan Hari Waisak, termasuk bursa Korea Selatan dan Hang Seng Hongkong. Meski demikian, ada satu pencapaian bersejarah yang patut dicatat: indeks Nikkei 225 Jepang berhasil menembus level psikologis 65.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah bursa Jepang. Pencapaian all-time high ini menandai tonggak penting dalam pemulihan dan pertumbuhan pasar modal Jepang.




Rupiah Tertekan, Melemah di Semua Front


Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah tidak terhindarkan. Mata uang Garuda melemah 0,2% terhadap dolar AS dan kini diperdagangkan di level Rp17.725 per 1 dolar AS — mendekati ambang psikologis Rp17.720 yang menjadi sorotan banyak ekonom.

Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS. Terhadap dolar Singapura, rupiah terdepresiasi 0,46%. Terhadap yen Jepang, rupiah melemah 0,4% dan kini berada di kisaran Rp111 per yen. Sementara terhadap euro, pelemahan rupiah tercatat sebesar 0,5%, dengan posisi nilai tukar di Rp20.626 per euro. Pelemahan yang searah terhadap berbagai mata uang utama ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sistemik, bukan semata-mata berasal dari faktor internal.




Pasar dalam Mode Waspada


Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia hari ini berada dalam mode waspada. IHSG memang masih mampu bertahan di zona positif, tetapi tekanan dari berbagai arah - mulai dari keputusan FTSE Russell, pelemahan rupiah, hingga volatilitas harga komoditas global - menuntut kewaspadaan ekstra dari para investor. Perkembangan negosiasi AS-Iran dan nasib pembukaan Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah pasar dalam beberapa hari ke depan.