Dukung Login

Perang Iran dan Dampaknya pada Harga BBM serta Ekonomi Warga Amerika Serikat

🌐 22 May 2026
👁 54 Views | X

Perang Iran dan Lonjakan Harga: Fakta di Balik Klaim Pemerintahan Trump


Sejak Amerika Serikat terlibat dalam perang dengan Iran, warga Amerika harus menanggung beban kenaikan harga yang signifikan, mulai dari bahan bakar minyak hingga kebutuhan sehari-hari. Di tengah tekanan ekonomi itu, pemerintahan Donald Trump justru berusaha membangun narasi bahwa kondisi ekonomi sebelum perang sudah sangat baik, dan menyalahkan perang sebagai satu-satunya penyebab masalah yang ada saat ini.




Trump mengklaim bahwa inflasi sebelum perang hanya berada di angka 1,6 persen, dan harga bensin pernah turun hingga 1,85 dolar per galon di Iowa. Namun data resmi menunjukkan fakta yang berbeda.

Sejak Trump menjabat pada periode keduanya, inflasi tidak pernah sekalipun menyentuh angka di bawah dua persen. Harga bensin sehari sebelum perang dimulai tercatat rata-rata 2,98 dolar per galon secara nasional. Adapun harga termurah kala itu bukan di Iowa, melainkan di Oklahoma, yakni sekitar 2,47 dolar per galon. Selain itu, hingga Februari lalu, harga barang dan jasa secara umum sudah naik 2,9 persen dibandingkan saat Trump pertama kali menjabat di periode ini.



Para analis berpendapat bahwa Trump tengah berusaha menulis ulang sejarah karena menyadari betapa pentingnya isu harga bagi pemilu paruh waktu yang semakin dekat. Survei Fox News menunjukkan tingkat ketidaksetujuan publik terhadap penanganan inflasi oleh Trump mencapai 76 persen, angka yang mencerminkan betapa dalamnya kekhawatiran warga terhadap kondisi ekonomi saat ini.




Masalah harga bukan hanya soal bensin. Warga Amerika juga merasakan lonjakan harga pada bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga material bangunan. Seorang teknisi komputer di Pittsburgh mengungkapkan bahwa hampir semua harga naik, sementara penghasilan tetap stagnan. Bagi mereka yang hidup dari gaji ke gaji, kenaikan harga ini terasa sangat berat, terutama karena transportasi adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindari.


Di sisi lain, harga bensin kini berada di level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yakni rata-rata 4,56 dolar per galon secara nasional, naik 54 sen hanya dalam sebulan. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, seluruh 50 negara bagian dan Washington DC mencatat harga di atas 4 dolar per galon. Negara-negara bagian yang biasanya dikenal memiliki harga bensin murah seperti Mississippi, Louisiana, Georgia, Indiana, dan Texas pun kini tidak luput dari lonjakan tersebut.




Penyebab utama kenaikan harga ini adalah penutupan Selat Hormuz akibat perang, yang mengakibatkan guncangan terbesar dalam pasokan energi global sepanjang sejarah. Cadangan minyak Amerika Serikat pun menyusut drastis. Hanya dalam satu pekan, stok minyak nasional turun 18 juta barel, rekor penurunan terbesar dalam data federal yang ada sejak awal 1980-an. Cadangan Petroleum Strategis juga turun 10 persen sejak perang dimulai.


Sejumlah pengamat menyebut bahwa ada dua faktor yang memperparah situasi ini. Pertama, kebijakan tarif perdagangan yang dinilai telah membebani rata-rata keluarga Amerika sekitar 1.000 dolar. Kedua, kenaikan harga bensin diperkirakan akan menelan biaya tambahan sekitar 850 dolar per keluarga sepanjang tahun ini. Yang memperburuk keadaan adalah fenomena ekonomi yang disebut "rockets and feathers", yaitu kondisi di mana harga naik dengan cepat ketika harga minyak mentah naik, namun turun sangat lambat ketika harga minyak mentah kembali merosot.




Sebagian analis menyarankan agar Trump mempertimbangkan untuk mencabut kebijakan tarif sebagai langkah konkret untuk menurunkan harga. Namun Trump tampaknya tidak akan mundur dari kebijakan tersebut. Opsi lain yang disebut adalah menyelesaikan misi militer di Iran hingga Selat Hormuz dapat dibuka kembali, yang diharapkan dapat mendorong harga minyak dunia turun seiring dengan spekulasi pasar.


Isu harga dan daya beli masyarakat telah menjadi perhatian utama warga Amerika sejak era pemerintahan Biden. Kini, dengan kondisi yang belum membaik di bawah Trump, tekanan terhadap pemerintah untuk segera menemukan solusi nyata semakin besar. Pemilu paruh waktu semakin dekat, dan sejauh ini belum ada kebijakan yang terbukti mampu mengembalikan daya beli warga ke kondisi semula.