Dukung Login

PMI Manufaktur Naik ke 50,2, Ini Tantangan Industri Besi Baja RI

🌐 06 Aug 2026
👁 148 Views | X

Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi sebulan sebelumnya. Kalangan pelaku industri besi baja dan ekonom menilai perbaikan ini sebagai sinyal positif, namun tetap mengingatkan sejumlah tantangan struktural - mulai dari daya beli kelas menengah hingga tekanan produk impor - yang masih membayangi pemulihan sektor industri nasional.


Daftar Isi:



PMI Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansi pada Juli 2026

Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers Index manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat naik ke level 50,2 pada Juli 2026, setelah sebelumnya berada di posisi 46,9 pada Juni. Kenaikan ini menandai kembalinya aktivitas manufaktur nasional ke zona ekspansi, mengingat angka di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan, sementara angka di bawahnya menunjukkan kontraksi.

Meski demikian, pemulihan sektor industri dinilai masih berlangsung secara bertahap. Sejumlah tantangan masih membayangi, termasuk kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta sikap kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan pembelian bahan baku produksi.



Faktor Pendorong Perbaikan Produksi dan Pesanan Baru

Perbaikan PMI manufaktur pada Juli terutama ditopang oleh kembalinya pertumbuhan volume produksi, setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut. Meski begitu, laju ekspansi produksi tersebut masih tergolong terbatas.

Menurut Economist Global Market Intelligence, Usama Bati, peningkatan produksi ini didorong oleh mulai stabilnya permintaan pasar serta membaiknya tingkat kepercayaan pelanggan. Sejalan dengan hal tersebut, volume pesanan baru juga berhasil kembali stabil setelah sempat mengalami kontraksi cukup dalam pada Juni.

Sejumlah perusahaan melaporkan adanya peningkatan penjualan seiring dengan menguatnya kepercayaan pelanggan dan dimulainya sejumlah proyek baru. Namun demikian, persaingan yang semakin ketat dalam memperoleh pesanan, ditambah dengan kenaikan harga jual produk, masih membatasi laju pertumbuhan permintaan secara keseluruhan. Kenaikan harga bahan baku pun tetap menjadi faktor utama yang menahan laju ekspansi sektor manufaktur secara umum.



Sikap Hati-hati Pelaku Usaha dalam Pembelian Bahan Baku

Meski aktivitas produksi mulai menunjukkan tanda pemulihan, pelaku industri tetap bersikap hati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku. Aktivitas pembelian tercatat kembali menurun untuk bulan kelima berturut-turut, sebagai akibat dari kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan di pasar.

Sejumlah perusahaan bahkan memilih untuk mengurangi tingkat persediaan bahan baku sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi permintaan yang belum sepenuhnya pulih. Langkah ini ditempuh sebagai strategi menjaga efisiensi operasional, mengingat arus pesanan baru masih cenderung lemah dan belum menunjukkan tren kenaikan yang stabil.



Respons Industri Besi Baja Terhadap Kenaikan PMI

Kenaikan PMI manufaktur turut mendapat tanggapan dari kalangan pelaku industri besi dan baja. Hari Wargegara, Executive Director Indonesian Iron and Steel Industry Association, menyampaikan bahwa kenaikan PMI ke level 50,2 dari sebelumnya 46,9 di Juni merupakan sinyal baik bagi pertumbuhan industri, khususnya sektor besi dan baja.

Ia menjelaskan bahwa permintaan domestik sudah mulai menunjukkan tren kenaikan, sementara ketersediaan bahan baku juga tergolong cukup baik pada periode tersebut. Meski demikian, jika dibandingkan dengan kondisi pada Januari dan Februari 2026, capaian saat ini masih berada di bawah level tersebut.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dalam struktur PMI manufaktur, tiga sektor teratas ditempati oleh industri makanan dan minuman, tekstil dan furnitur, serta industri dasar logam. Industri dasar logam sendiri tercatat berada di level 53 pada kuartal kedua 2026, dengan proyeksi dapat mencapai 58 pada kuartal ketiga. Ia menyatakan optimisme bahwa tren peningkatan ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun, khususnya bagi industri dasar logam atau besi baja.



Peran Permintaan Domestik dan Program Pemerintah

Terkait struktur pasar, Hari mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen pangsa pasar industri besi dan baja nasional berasal dari pasar domestik. Kondisi ini menjadikan program-program pemerintah, termasuk proyek yang dijalankan Danantara dan sejumlah BUMN, sebagai salah satu sinyal positif yang turut berimbas langsung terhadap kinerja industri besi baja.


Namun demikian, ia turut menyoroti tingkat utilisasi industri anggota asosiasi yang masih berada di kisaran 52 hingga 53 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa kapasitas terpasang industri besi baja nasional masih jauh dari optimal, meski permintaan domestik menunjukkan tren perbaikan.



Persoalan Utilisasi Industri yang Masih Rendah

Persoalan rendahnya tingkat utilisasi ini, menurut Hari, bukan semata terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global. Ia memaparkan bahwa kelebihan kapasitas terpasang dibandingkan produksi aktual industri besi baja dunia saat ini mencapai sekitar 600 juta metrik ton per tahun, dengan proyeksi dapat meningkat hingga 745 juta ton pada 2028.

Kondisi ini membuat pelaku industri cenderung bersikap pesimistis dalam melihat prospek tiga tahun ke depan. Karena itu, kenaikan permintaan domestik yang terjadi saat ini diharapkan tidak hanya terserap oleh produk impor, tetapi juga mampu mendorong kenaikan permintaan terhadap produsen dalam negeri secara langsung.

Hari menegaskan bahwa asosiasi tidak menolak keberadaan impor, namun menginginkan adanya perdagangan yang adil atau fair trade. Menurutnya, jika suatu jenis barang atau spesifikasi tertentu memang tidak dapat diproduksi di dalam negeri, maka impor menjadi pilihan yang wajar. Namun jika barang tersebut mampu diproduksi secara domestik, semestinya produk dalam negeri diprioritaskan terlebih dahulu.

Ia juga menyoroti bahwa industri besi baja, berbeda dengan sektor pangan, belum memiliki neraca komoditas yang memungkinkan pemerintah mengatur waktu dan jalur impor secara lebih terstruktur. Ketiadaan instrumen ini dinilai menjadi salah satu kelemahan dalam tata kelola perdagangan besi baja nasional.



Pentingnya SNI Wajib untuk Melindungi Konsumen

Selain persoalan utilisasi, asosiasi turut menyoroti pentingnya penerapan Standar Nasional Indonesia atau SNI wajib bagi produk besi dan baja. Menurut Hari, pemerintah tengah mengkaji perluasan SNI wajib, yang saat ini dinilai masih terbatas jumlahnya, yaitu di bawah sepuluh jenis produk dan sebagian besar berada di level hulu.

Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, yang telah menerapkan SNI wajib untuk sekitar 20 hingga 30 jenis produk. Menurut Hari, pihak yang paling diuntungkan dari perluasan SNI wajib adalah konsumen, karena mereka dapat memperoleh produk yang telah melalui proses uji laboratorium dan inspeksi secara mendalam.

Ia menekankan bahwa produk besi baja secara kasat mata seringkali tidak dapat dibedakan kualitasnya, sehingga konsumen berisiko membeli produk dengan komposisi besi yang tidak sesuai standar. Perluasan SNI wajib pada produk hilir besi baja dinilai dapat mencegah insiden seperti robohnya bangunan akibat kualitas material yang tidak memenuhi standar, sebagaimana pernah terjadi pada sejumlah kasus di dalam maupun luar negeri.





Apakah Rebound PMI Bersifat Sementara atau Berkelanjutan


Yusuf Rendy Manilet, peneliti ekonomi dari Core Indonesia, memberikan pandangan berbeda terkait keberlanjutan tren kenaikan PMI manufaktur. Ia menjelaskan bahwa perbaikan PMI pada Juli tidak terlepas dari relatif lebih rendahnya kenaikan harga bahan baku dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni, lonjakan harga bahan baku sempat menekan sisi industri sehingga memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian signifikan.


Selain faktor harga bahan baku, Yusuf turut menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dikeluarkan pada Juli, termasuk kebijakan harga gas serta pelonggaran bea masuk untuk bahan baku penopang kinerja industri manufaktur. Kombinasi faktor tersebut dinilai turut mendorong optimisme pelaku usaha, meski tercermin dalam kenaikan PMI yang relatif tipis.


Ia mengingatkan bahwa kenaikan tipis tersebut membuat posisi PMI manufaktur menjadi rentan. Jika terjadi dinamika yang memengaruhi kinerja industri, angka PMI berpotensi kembali turun ke level kontraktif atau di bawah 50. Menurutnya, kemungkinan tersebut bukan tidak mungkin terjadi, mengingat faktor geopolitik yang mendorong volatilitas harga komoditas sepanjang semester pertama 2026 diperkirakan masih akan berlanjut pada semester kedua.



Perbandingan Indeks Kepercayaan Industri dan Keyakinan Konsumen

Data pendukung turut menunjukkan pergerakan indeks kepercayaan industri sepanjang Januari hingga Juli 2026. Indeks tersebut tercatat berada di level 54,12 poin pada Januari, kemudian cenderung menurun hingga April ke posisi 51,75 poin. Selanjutnya indeks sempat naik ke 53,56 poin pada Mei, turun kembali pada Juni, sebelum akhirnya naik lagi ke 53,1 poin pada Juli.


Sementara itu, indeks keyakinan konsumen menunjukkan tren yang berbeda. Pada Januari, indeks tercatat berada di level 127 poin, namun kemudian cenderung menurun secara bertahap hingga mencapai 117,8 poin pada Juni. Perbedaan arah pergerakan antara indeks kepercayaan industri dan indeks keyakinan konsumen ini menjadi salah satu sorotan penting dalam menilai keberlanjutan pemulihan sektor manufaktur.




Kesenjangan antara Data Makro dan Realita Kelas Menengah


Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa ekspansi PMI manufaktur didorong oleh kepercayaan konsumen serta permintaan domestik. Namun, data indeks keyakinan konsumen justru menunjukkan penurunan pada Juni, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi antara narasi tersebut dengan kondisi riil di lapangan.

Yusuf menjelaskan bahwa indeks keyakinan konsumen sesungguhnya terdiri dari berbagai kelompok golongan pendapatan. Karena itu, angka indeks secara keseluruhan yang berada di atas 100 perlu dicermati lebih lanjut untuk mengetahui kelompok pendapatan mana yang menjadi penopang utama kenaikan tersebut.

Berdasarkan pengamatan lebih mendalam, penurunan ekspektasi keyakinan konsumen terutama terjadi pada kelompok kelas menengah dan menengah ke bawah. Menurutnya, persoalan ini bukan merupakan isu baru, mengingat tekanan terhadap kelompok tersebut sudah menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok kelas menengah dan calon kelas menengah ini justru menjadi penopang sebagian besar konsumsi rumah tangga nasional.


Ketika ekspektasi konsumsi kelompok tersebut menurun, meski secara umum masih tergolong optimistis, mereka cenderung akan melakukan penyesuaian konsumsi dalam jangka waktu enam bulan hingga satu tahun ke depan. Penyesuaian ini pada akhirnya akan berdampak pada sisi produsen, yang harus kembali menyesuaikan produksi ketika permintaan mengalami perlambatan.



Tantangan Persaingan dengan Produk Impor


Yusuf menekankan bahwa tekanan yang dihadapi produsen dalam negeri sesungguhnya bersifat ganda. Selain harus menghadapi potensi penurunan permintaan domestik akibat pelemahan daya beli kelas menengah, produsen juga harus bersaing dengan produk impor yang terus masuk ke pasar dalam negeri.


Ia mencontohkan bahwa persoalan daya saing yang tergerus akibat persaingan dengan produk impor bukan cerita baru, khususnya pada sektor tekstil dan besi baja sebagaimana disampaikan sebelumnya oleh Hari. Menurutnya, diperlukan kebijakan khusus yang ditujukan pada industri strategis yang kinerjanya tertekan oleh produk impor dengan standar kualitas yang tidak sebanding.


Jika kebijakan tersebut tidak segera diterapkan, tekanan terhadap industri strategis dapat menjadi ganda, yakni dari sisi penurunan ekspektasi dan konsumsi domestik, sekaligus dari sisi turunnya daya saing terhadap produk impor. Kombinasi kedua tekanan ini berpotensi meredupkan kinerja industri-industri strategis yang sesungguhnya penting bagi pertumbuhan ekonomi, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.




Harapan Kebijakan Komprehensif bagi Industri Nasional

Menyikapi berbagai tantangan tersebut, Hari menyatakan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan yang telah diterapkan pemerintah, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, seperti kebijakan antidumping, safeguarding, hingga rencana perluasan SNI wajib. Meski demikian, ia berharap ke depan pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih komprehensif untuk melindungi ekosistem industri nasional secara berkelanjutan, khususnya di sektor besi baja.

Ia menegaskan bahwa mengingat pasar domestik merupakan pasar terbesar bagi industri besi baja nasional, sudah selayaknya produsen dalam negeri menjadi pemain utama di negaranya sendiri, termasuk dalam proyek-proyek pemerintah dan BUMN. Selain itu, ia berharap adanya implementasi instrumen perlindungan perdagangan yang lebih efektif guna menciptakan level playing field yang setara bagi industri nasional.


Hari turut mengapresiasi langkah Menteri Keuangan yang melakukan sidak terhadap sejumlah perusahaan, termasuk yang berasal dari investasi luar negeri, yang diduga tidak membayar pajak secara semestinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menciptakan persaingan usaha yang adil sekaligus memastikan pemerintah memiliki blueprint yang jelas bagi pengembangan industri dalam negeri ke depan, sekaligus menjaga daya beli masyarakat agar keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran dapat kembali tercapai.



FAQ (tanya-jawab):


T: Apa penyebab utama PMI manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada Juli 2026?

J: Kenaikan PMI didorong oleh pulihnya volume produksi setelah empat bulan kontraksi, stabilnya permintaan, membaiknya kepercayaan pelanggan, serta kebijakan pemerintah seperti pelonggaran bea masuk bahan baku dan penyesuaian harga gas.


T: Mengapa pelaku industri masih berhati-hati membeli bahan baku meski produksi membaik?

J: Aktivitas pembelian bahan baku turun untuk bulan kelima berturut-turut akibat kenaikan harga dan keterbatasan pasokan, sehingga perusahaan memilih mengurangi persediaan demi menjaga efisiensi di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.


T: Apakah kenaikan PMI manufaktur ini bersifat berkelanjutan atau sementara?

J: Ekonom menilai kenaikannya relatif tipis sehingga rentan kembali ke zona kontraksi, mengingat faktor geopolitik dan volatilitas harga komoditas masih berpotensi memengaruhi kinerja industri manufaktur sepanjang semester kedua 2026.