Dukung Login

Menjadi Orangtua seperti Abraham: Mendidik Anak dalam Kebenaran dan Iman

🌐 12 Apr 2026
👁 140 Views | X

Abraham adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Alkitab. Imannya yang luar biasa menjadikannya dikenal sebagai "Bapa orang percaya." Tuhan memberikan empat janji besar kepada Abraham, yaitu berkat, nama yang termashyur, bangsa yang besar, dan tanah perjanjian - sebagaimana tercatat dalam Kejadian 12. Semua janji itu digenapi satu per satu dalam perjalanan hidup Abraham.


Daftar Isi:

  1. Tanggung Jawab Orangtua: Mendidik Anak dalam Kebenaran Firman Tuhan
  2. Peran Orangtua sebagai Mandataris Allah


Namun perjalanan hidup  Abraham tidaklah selalu mulus. Karena belum memiliki anak, Abraham mengambil Hagar dan melahirkan Ismael. Situasi ini menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga, di mana Hagar mulai memandang rendah Sara, istri Abraham.


Konflik ini meninggalkan luka dalam keluarga hingga akhirnya Hagar dan Ismael diusir. Meski demikian, Tuhan tidak meninggalkan mereka. Tuhan tetap memelihara Hagar dan Ismael, bahkan menjanjikan bahwa dari Ismael akan lahir 12 raja dan ia akan menjadi bangsa yang besar.


Yang menarik, ketika Abraham wafat, baik Ishak maupun Ismael bersama-sama menguburkan ayah mereka - sebagaimana dicatat dalam Kejadian 25:9. Ini menjadi pelajaran berharga: meski lahir dari ibu yang berbeda, anak-anak Abraham tetap hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain sebagai sesama keturunan Abraham.


Kejadian 25:9"Maka anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di ladang Efron bin Zohar, orang Het itu, yang letaknya di sebelah timur Mamre."





1. Tanggung Jawab Orangtua: Mendidik Anak dalam Kebenaran Firman Tuhan


Allah secara khusus memilih Abraham dan memerintahkan kepadanya untuk mendidik seluruh keturunannya agar tetap berjalan di jalan Tuhan dengan melakukan kebenaran dan keadilan. Artinya, mendidik anak bukan sekadar tugas sosial - ini adalah panggilan rohani yang langsung diberikan oleh Tuhan.


Sayangnya, tidak semua orangtua menjalankan peran ini dengan baik. Kisah Imam Eli dalam 1 Samuel 2 menjadi peringatan keras bagi setiap orangtua. Eli menutup mata terhadap perilaku jahat anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, yang melayani di Bait Allah namun hidup dalam dosa. Akibatnya, Tuhan menjatuhkan hukuman atas seluruh keluarga Eli. Eli lebih takut kepada anak-anaknya daripada kepada Tuhan Allah sendiri — sebuah kesalahan yang membawa kehancuran.


1 Samuel 2:23-25, 27-29 "Ia berkata kepada mereka: 'Mengapa kamu berbuat hal-hal yang begitu, sebab aku mendengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku, sebab bukanlah kabar baik yang kudengar itu, yang disebarkan di antara umat TUHAN. Apabila seseorang berdosa terhadap orang lain, Allah dapat menjadi pengantara; tetapi apabila seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang dapat menjadi pengantara baginya?' Tetapi mereka tidak mendengarkan perkataan ayahnya, sebab TUHAN sudah mau membunuh mereka... Mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian terbaik dari setiap korban yang dipersembahkan oleh umat-Ku Israel?"


Sebaliknya, Kitab Ulangan 6:6-9 memberikan panduan yang sangat konkret tentang bagaimana orangtua seharusnya mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka:





Ulangan 6:6-9 - "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu."





2. Peran Orangtua sebagai Mandataris Allah


Mendidik anak bukan hanya tugas ibu. Banyak ayah yang keliru berpikir bahwa pengasuhan rohani adalah tanggung jawab istri semata. Firman Tuhan dengan tegas menunjukkan bahwa baik ayah maupun ibu adalah mandataris Allah — wakil-Nya di dunia untuk membesarkan dan membentuk anak-anak yang mengenal dan mengasihi Tuhan.


Kolose 3:18-25 mengingatkan bahwa anak-anak pun memiliki kewajiban untuk menghormati orangtua mereka, karena orangtua adalah wakil Allah. Ketika seorang anak menyakiti hati orangtuanya, secara tidak langsung ia juga menyakiti hati Allah.


Kolose 3:18-21 "Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."


Pengajaran firman Tuhan yang dimulai sejak dini akan membangun fondasi iman yang kuat dalam diri anak. Ketika dewasa, anak-anak yang dibesarkan dalam kebenaran firman Tuhan tidak akan merasa asing dengan imannya. Mereka akan mampu membedakan yang baik dari yang jahat, dan mengaktualisasikan iman mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari.


Tujuan akhirnya sederhana namun mulia: lahirnya keluarga-keluarga yang melakukan kebenaran dan keadilan, sebagaimana perintah Tuhan kepada Abraham dan keturunannya. Dan seperti Abraham yang diberkati Tuhan, demikian pula setiap keluarga yang setia mendidik anak-anaknya dalam jalan Tuhan akan mengalami berkat-Nya — dari generasi ke generasi. Amin.


(marturia)