Dukung Login

Tuhan itu Maha Baik kenapa masih ada penderitaan? perspektif Katolik - kotbah

🌐 11 Jul 2026
👁 112 Views | X

Ringkasan Kotbah:





Kotbah: Jika Tuhan Maha Baik, Mengapa Ada Penderitaan?
Pengkotbah:  Fr. Albertus Joni, SCJ / Fr. Koko  Buka | Channel 
Pengantar: Penderitaan yang Dikenal Semua Orang
Romo Koko membuka renungannya bukan dengan teori, melainkan dengan kenangannya sendiri. Ia bercerita tentang kehilangan neneknya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saat kedukaan yang dalam justru baru ia sadari ketika jenazah sang nenek dimasukkan ke liang lahat. Dari situ lahirlah pertanyaan khas seorang anak kecil, "Tuhan, katanya Engkau Maha Baik, mengapa Engkau mengambil nenekku?" Pertanyaan itu ternyata bergema sepanjang hidupnya: saat ia menekuni filsafat dan menemukan bahwa Santo Thomas Aquinas sendiri, di awal karya besarnya Summa Theologiae, sudah mempersoalkan hal yang sama - bagaimana mungkin ada kejahatan dan penderitaan jika Allah sungguh Mahabaik? Secara logika, dua hal yang saling bertentangan tidak bisa berada dalam kategori yang sama; yang sempurna semestinya tidak bercampur dengan yang cacat. Pertanyaan itu semakin nyata ketika Rm. Koko melayani orang muda yang bergumul dengan tekanan hidup, termasuk beberapa yang nyaris mengakhiri hidupnya, serta ketika ia harus memakamkan begitu banyak umat yang meninggal akibat pandemi COVID19. Dari pengalaman-pengalaman itulah renungan ini disusun: bukan sebagai jawaban filosofis yang dingin, melainkan sebagai pergumulan iman yang mencoba mendengar apa kata Kitab Suci tentang penderitaan.
Penderitaan Supaya Kemuliaan Allah Dinyatakan (Yohanes 11)
Alasan pertama diambil dari kisah kebangkitan Lazarus dalam Yohanes 11. Ketika Lazarus sakit keras, Yesus justru menunda kedatangan-Nya selama tiga hari, sampai akhirnya Lazarus benar-benar meninggal. Marta dan Maria menangis dan mempertanyakan mengapa Yesus tidak datang lebih cepat. Yesus sendiri turut menangis, hati-Nya sungguh tersentuh melihat dukacita mereka. Namun Ia berkata bahwa peristiwa ini akan membawa kemuliaan Allah dinyatakan. Ketika akhirnya Lazarus dibangkitkan, orang banyak takjub dan mulai mengenali bahwa Yesus adalah Sang Mesias, penguasa hidup dan mati. Dari kisah ini, Rm. Koko menegaskan bahwa penderitaan kadang perlu dilalui bukan karena Allah senang melihat manusia menderita, melainkan supaya kemuliaan-Nya bisa dinyatakan dengan lebih jelas. Di zaman modern, manusia semakin merasa berkuasa atas segalanya—bisa membuat hujan buatan, menahan banjir, mengendalikan alam. Kesombongan seperti inilah yang membuat manusia lupa akan keterbatasannya, sebagaimana Adam dan Hawa jatuh karena tergoda ingin "menjadi seperti Allah". Penderitaan, dalam terang ini, menjadi pengingat bahwa manusia bukan pusat segalanya, dan bahwa kita senantiasa membutuhkan uluran tangan Tuhan.
Penderitaan Bukan Karma (Yohanes 9)
Alasan kedua menjawab pertanyaan yang sering muncul: apakah penderitaan adalah akibat dosa, semacam hukum tabur-tuai atau karma? Rm. Koko mengajak jemaat membuka Yohanes bab 9, tentang seorang yang buta sejak lahir. Para murid bertanya kepada Yesus, apakah kebutaan itu akibat dosa orang itu sendiri atau dosa orang tuanya. Jawaban Yesus tegas: bukan keduanya, melainkan supaya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam hidupnya. Di sinilah letak perbedaan mendasar iman Kristiani dengan pandangan yang meyakini hukum karma—bahwa penderitaan seseorang pasti berasal dari kesalahan masa lalu, entah miliknya sendiri atau leluhurnya. Iman Kristiani menolak logika itu. Meski begitu, Rm. Koko juga jujur mengakui bahwa ada penderitaan yang lahir dari penyalahgunaan kehendak bebas kita sendiri—misalnya sakit akibat pola makan yang tidak terkendali, atau kebiasaan buruk yang terus dipelihara meski kita tahu itu keliru. Penderitaan semacam ini bukan karma, tetapi konsekuensi dari pilihan bebas yang kita ambil sendiri, dan karenanya tidak tepat pula bila serta-merta disebut "salib dari Tuhan".
Penderitaan sebagai Jalan Cinta
Alasan ketiga inilah yang menjadi inti keindahan iman Kristiani: penderitaan dapat menjadi jalan cinta. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang rela memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya (bdk. Injil Yohanes). Allah sendiri membuktikan cinta-Nya bukan dengan menghapus penderitaan secara ajaib, melainkan dengan masuk ke dalamnya—menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba yang menderita, bahkan wafat di kayu salib. Setiap perhentian jalan salib adalah penghormatan bagi cinta yang memberi diri sepenuhnya. Rm. Koko menghubungkan hal ini dengan spiritualitas Kongregasi SCJ (Dehonian), yang berakar pada Yohanes 19: ketika lambung Yesus ditikam, mengalirlah darah dan air—lambang cinta yang dicurahkan habis-habisan, bahkan setelah kematian sekalipun. Allah yang disebut Imanuel bukan hanya Allah yang menyertai di malam Natal yang penuh sukacita, tetapi juga Allah yang hadir dalam pangkuan Bunda Maria yang berduka atas jenazah Putra-Nya. Karena itu, penderitaan tidak selalu harus ditolak sebagai sesuatu yang buruk; ia bisa menjadi bukti nyata solidaritas Allah dengan manusia yang rapuh dan terluka.
Dari "Mengapa" Menuju "Siapa" (Kitab Ayub)
Alasan keempat, sekaligus puncak renungan, mengajak jemaat mengubah arah pertanyaan mereka: dari "mengapa Tuhan?" menjadi "siapakah Engkau, Tuhan?" Inilah yang terjadi dalam Kitab Ayub. Setelah kehilangan segalanya, Ayub berulang kali memprotes dan menuntut penjelasan dari Allah. Namun ketika Allah akhirnya menjawab dari dalam badai (Ayub pasal 38), Ia tidak memberi alasan logis atas penderitaan Ayub. Sebaliknya, Allah balik bertanya: di manakah Ayub ketika Allah meletakkan dasar bumi, ketika bintang-bintang fajar bersorak bersama? Pertanyaan itu bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyadarkan Ayub akan keterbatasan pengetahuan manusia di hadapan misteri Allah yang jauh lebih besar. Setelah perjumpaan itu, Ayub tidak lagi mendesak jawaban "mengapa", karena ia telah mengenal "siapa" Allah itu secara lebih mendalam. Hal serupa terjadi pada dua murid yang berjalan menuju Emaus dengan hati patah—justru di tengah kesedihan itulah Yesus yang bangkit hadir dan berjalan bersama mereka, meski mereka baru mengenali-Nya saat roti dipecahkan. Rm. Koko mengajak umat memandang penderitaan bukan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang lebih intim dengan Allah; setiap air mata yang tercurah bisa menjadi jalan menuju kedekatan yang lebih dalam dengan-Nya.
Kebijaksanaan, Kerendahan Hati, dan Kasih pada Sesama yang Menyakiti Kita
Dalam sesi tanya jawab, Rm. Koko menegaskan bahwa banyak-sedikitnya penderitaan bukan ditentukan oleh keadaan di luar diri kita, melainkan oleh kedalaman relasi kita dengan Allah. Orang yang relasinya dengan Tuhan kuat dan intim tidak mudah goyah oleh gejolak dari luar, sedangkan orang jahat sekalipun tampak baik-baik saja secara lahiriah, sebenarnya sering hancur dari dalam karena hidup tanpa pengharapan akan Allah. Ia juga membagikan pengalaman pribadinya belajar berbelas kasih ketika mengemudi di jalanan yang semrawut: alih-alih mengumpat pengendara ojek atau pedagang gerobak yang menghalangi jalan, ia belajar mengingat bahwa mereka sedang mencari nafkah untuk keluarga mereka. Orang-orang yang menjengkelkan atau menyakiti kita, kata Rm. Koko, sesungguhnya adalah orang-orang yang juga tidak kalah menderita, karena Allah menciptakan setiap manusia baik adanya, dan ketika seseorang melawan kodrat itu, ia sendiri pun ikut menderita. Karena itu, jalan Kristiani mengundang kita untuk keluar dari fokus pada diri sendiri dan berbelas kasih kepada mereka yang justru menyakiti kita, sebab merekalah yang sesungguhnya lebih patut dikasihani.
FAQ (Tanya Jawab Seputar Khotbah):
T: Apakah penderitaan yang kita alami adalah hukuman atas dosa kita, seperti hukum karma?
J: Tidak. Berdasarkan Yohanes 9:3, ketika para murid bertanya apakah kebutaan seseorang sejak lahir disebabkan oleh dosanya sendiri atau dosa orang tuanya, Yesus menjawab bahwa itu terjadi bukan karena dosa, melainkan supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam hidupnya. Iman Kristiani tidak mengenal konsep karma seperti dalam beberapa tradisi lain. Meski demikian, ada penderitaan yang memang muncul akibat kita menyalahgunakan kehendak bebas—misalnya sakit karena gaya hidup yang tidak terkendali—namun itu adalah konsekuensi pilihan, bukan "hukuman dosa" dalam arti karma.
T: Mengapa sering terasa orang baik justru banyak menderita, sementara orang jahat tampak baik-baik saja?
J: Rm. Koko menjelaskan bahwa hal itu hanyalah tampak luar. Hidup dan mati, sehat dan sakit, tidak ditentukan oleh kualitas moral seseorang. Orang jahat pun sesungguhnya menderita, hanya saja penderitaan mereka tersembunyi di kedalaman batin—mereka hidup tanpa pengharapan akan Allah dan sering menekan suara hati mereka sendiri. Sebaliknya, kebahagiaan sejati seseorang ditentukan oleh kedalaman relasinya dengan Allah dari dalam, bukan oleh banyak-sedikitnya cobaan yang tampak dari luar.
T: Apakah pandemi dan bencana alam merupakan akibat dari dosa manusia?
J: Menurut Rm. Koko, banyak bencana seperti pandemi berkaitan dengan penyalahgunaan kehendak bebas manusia secara kolektif—keserakahan menebang hutan, gaya hidup konsumtif, dan eksploitasi alam yang merusak habitat satwa liar sehingga mempercepat penularan penyakit antarspesies. Ia mengingatkan konsep shalom dalam tradisi Ibrani yang mencakup tiga dimensi damai: damai dengan Allah, damai dengan sesama, dan damai dengan alam. Manusia dipanggil untuk menjadi pengelola dan pemelihara bumi, bukan penguasa yang mengeksploitasinya, sehingga pandemi bisa dipahami sebagai konsekuensi dosa kolektif manusia terhadap alam ciptaan, bukan hukuman langsung dari Allah.

-