Dukung Login

Inflasi Pangan April 2026 menghadapi adanya kenaikan harga beras dan daging ayam

🌐 30 Apr 2026
👁 70 Views | X

Mengapa harga pangan di Indonesia masih menjadi beban masyarakat di bulan April 2026?


Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pangan pada Maret 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan. Angka ini langsung memicu pertanyaan: apakah kenaikan ini hanya efek musiman atau pertanda tekanan yang lebih besar?


Kelompok volatile food kembali menjadi penyumbang utama. Dua komoditas yang paling dominan mendorong inflasi pangan adalah daging ayam ras dan beras. Kenaikan harga daging ayam ras terjadi cukup signifikan karena permintaan yang masih tinggi pasca Lebaran, sementara beras mengalami kenaikan akibat pasokan yang belum merata di beberapa daerah.




Apakah kedua bahan pokok ini memang sulit dikendalikan? Menurut data pemantauan harga, kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) pangan makin meluas di April 2026. Beras mengalami kenaikan IPH di 109 kabupaten/kota pada minggu keempat April, naik dari 97 wilayah pada minggu sebelumnya. Daging ayam ras bersama cabai rawit dan cabai merah juga menjadi komoditas penyumbang utama di berbagai daerah, termasuk di Papua Pegunungan dan Maluku Utara yang mencatat perubahan IPH hingga 4,79 persen.


Mengapa daerah-daerah tersebut lebih terdampak? Faktor utama kenaikan daging ayam adalah peningkatan konsumsi protein hewani setelah masa Lebaran serta biaya pakan ternak yang masih tinggi. Sementara beras dipengaruhi oleh musim tanam yang belum optimal di beberapa sentra produksi serta distribusi yang terhambat. Apakah pemerintah sudah cukup cepat merespons gejala ini?


Bank Indonesia dan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) serta daerah (TPID) terus melakukan intervensi pasar dan operasi pasar murah. Namun masyarakat tetap bertanya: seberapa efektif langkah tersebut jika harga daging ayam dan beras terus naik?


Bagi rumah tangga kelas bawah, kenaikan kedua komoditas ini sangat terasa karena beras merupakan makanan pokok utama, sedangkan daging ayam menjadi sumber protein paling terjangkau.Selain daging ayam dan beras, minyak goreng dan gula pasir juga ikut menyumbang tekanan inflasi pangan. Kenaikan harga minyak goreng tercatat meluas di 224 kabupaten/kota pada minggu keempat April.




Apakah ini pertanda inflasi pangan akan terus meningkat sepanjang tahun 2026? Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional berupaya menjaga stabilitas pasokan dengan distribusi cadangan beras pemerintah dan pemantauan ketat terhadap harga di tingkat pedagang. Meski demikian, inflasi pangan yang mencapai 3,34 persen ini tetap menjadi tantangan serius bagi daya beli masyarakat. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: bisakah pemerintah menekan inflasi pangan di bawah level 3 persen? Atau justru masyarakat harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi? 


Disiplin dalam pengendalian distribusi, peningkatan produksi dalam negeri, dan pengawasan harga di lapangan akan menjadi kunci utama. Tanpa langkah yang tepat, inflasi pangan Maret 2026 yang mencapai 3,34 persen berpotensi menjadi awal tekanan yang lebih panjang.