Setelah mencatatkan surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit dua bulan berturut-turut. Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizki, mengurai sejumlah faktor penyebab - mulai dari tekanan migas, perlambatan ekonomi China, hingga kebijakan pembatasan ekspor batu bara yang berdampak signifikan terhadap pendapatan negara.
Daftar Isi:
- Latar Belakang Defisit Neraca Dagang Dua Bulan Beruntun
- Tekanan Sektor Migas Sebagai Pemicu Utama
- Ketergantungan Dagang dengan China dan Dampak Perlambatannya
- Batu Bara: Dari Andalan Ekspor Menjadi Titik Lemah
- Windfall 2022 Versus Situasi Saat Ini - Apa Bedanya
- Peluang Amoniak dan Dilema Pupuk Dalam Negeri
- Tekanan Inflasi India dan Ketidakpastian Kawasan Asia
- Geopolitik Global - Kolaborasi Amerika Serikat dan Jepang Menekan China
- Ancaman Stagflasi dan Kebutuhan Kebijakan Stabilitas
- Proyeksi Neraca Dagang ke Depan.
Latar Belakang Defisit Neraca Dagang Dua Bulan Beruntun
Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencapai angka 450 juta dolar Amerika Serikat. Angka tersebut melengkapi rentetan defisit yang telah berlangsung selama dua bulan berturut-turut, sebuah kondisi yang tergolong tidak biasa mengingat Indonesia sebelumnya berhasil mempertahankan surplus perdagangan secara konsisten selama 72 bulan penuh, terhitung sejak Mei 2020.
Rentetan surplus panjang tersebut sempat menjadi salah satu indikator kekuatan fundamental ekonomi eksternal Indonesia di tengah berbagai gejolak global. Namun, munculnya defisit dua bulan beruntun ini memicu kekhawatiran baru mengenai arah kesehatan neraca perdagangan nasional ke depan.
Menurut Yanuar Rizki, ekonom dari Bright Institute, sinyal pelemahan ini sebenarnya sudah mulai terlihat jika dicermati dari tren jangka panjang. Sepanjang lima tahun terakhir, meskipun Indonesia masih mencatatkan surplus, nilai agregat surplus tersebut secara bertahap mengalami penurunan. Artinya, tren defisit yang terjadi belakangan ini bukan semata kejadian mendadak, melainkan akumulasi dari pelemahan yang sudah berjalan cukup lama.
Tekanan Sektor Migas Sebagai Pemicu Utama
Salah satu penyumbang defisit yang paling mencolok berasal dari sektor minyak dan gas. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat turut memberikan tekanan besar, terutama pada bulan Juli, terhadap defisit pembelian migas nasional. Tercatat defisit dari sektor ini mencapai 105,15 juta dolar AS, atau setara peningkatan hingga 4,56 miliar dolar AS secara agregat.
Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik tersebut berdampak langsung pada kebutuhan impor bahan bakar minyak dalam negeri. Ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, beban impor migas menjadi semakin berat dan menjadi salah satu variabel dominan yang mendorong Indonesia mengalami defisit dua bulan beruntun.
Meski demikian, Yanuar menegaskan bahwa migas bukan satu-satunya faktor. Ada persoalan lain yang menurutnya kurang mendapat sorotan dari BPS, yaitu terkait kebijakan pembatasan ekspor komoditas nonmigas oleh mitra dagang utama Indonesia, yakni China.
Ketergantungan Dagang dengan China dan Dampak Perlambatannya
China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, sehingga dinamika ekonomi di negara tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kinerja neraca dagang nasional. Data menunjukkan bahwa meski China masih mencatatkan surplus neraca dagangnya sendiri, nilai ekspornya justru mengalami penurunan signifikan hingga sekitar 48 persen. Penurunan nilai impor China bahkan tercatat lebih dalam dibandingkan penurunan ekspornya, yang menjelaskan mengapa surplus China tetap terjaga di tengah pelemahan aktivitas perdagangannya.
Kondisi ini berdampak langsung pada Indonesia. Ketika China mengurangi aktivitas impornya, Indonesia turut terdampak karena sebagian besar barang impor nasional memang berasal dari China. Selain itu, terdapat pula keterkaitan melalui skema maklun, di mana bahan baku yang berasal dari China diolah di Indonesia menjadi barang jadi nonmigas untuk kemudian diekspor kembali. Ketika volume perdagangan bahan baku ini melambat, sektor nonmigas ikut terseret melemah.
Yanuar juga menyoroti adanya gesekan kebijakan yang turut memperkeruh hubungan dagang kedua negara. Pada Mei 2026, sempat muncul keluhan dari Kamar Dagang China yang menilai kebijakan terkait DSI dinilai tidak jelas arahnya. Ketidakjelasan kebijakan semacam ini turut memengaruhi kepercayaan mitra dagang, meski kemudian ada klarifikasi dalam pertemuan di Danantara yang menegaskan bahwa DSI pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sistem national single window yang telah berjalan.
Batu Bara: Dari Andalan Ekspor Menjadi Titik Lemah
Salah satu komoditas yang menjadi tulang punggung hubungan dagang Indonesia dengan China adalah batu bara. Selama ini, batu bara menjadi penopang utama nilai ekspor Indonesia ke China. Namun pada Juni 2026, China diketahui melakukan pembatasan atau penangguhan impor batu bara dari Indonesia, sebuah langkah yang dampaknya cukup signifikan terhadap defisit yang tercatat pada bulan tersebut.
Data memperlihatkan bahwa defisit pada Juni jauh lebih besar dibandingkan Mei, dan pola ini sejalan dengan kebijakan pembatasan impor batu bara yang diterapkan China. Yanuar menilai, dampak perlambatan ekonomi China secara keseluruhan turut memperberat tekanan pada sektor ini, sehingga bukan semata soal kebijakan sepihak, melainkan juga cerminan dari pelemahan permintaan riil di pasar China.
Kondisi ini semakin kompleks mengingat sebagian program hilirisasi nasional, baik untuk batu bara maupun nikel, selama ini melibatkan investasi dan kerja sama dengan China. Belakangan, sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa China mulai menarik diri dari beberapa proyek hilirisasi nikel di Indonesia, sebuah sinyal yang menurut Yanuar berpotensi memberikan pengaruh besar terhadap kinerja ekspor nasional ke depan.
Sebagai catatan, kenaikan ekspor bahan bakar mineral pada periode tersebut sebenarnya tercatat melonjak hingga 49,67 persen, didorong oleh nikel dan produk turunannya, serta asam sulfat yang banyak dibutuhkan sektor perkebunan dan pertambangan. Namun kontribusi batu bara ke China yang menurun akibat pembatasan ekspor tetap menjadi faktor pemberat utama dalam struktur neraca dagang nonmigas.
Windfall 2022 Versus Situasi Saat Ini - Apa Bedanya
Yanuar menarik perbandingan menarik dengan situasi tahun 2022, saat harga minyak dunia juga mengalami kenaikan dan rupiah turut melemah. Kala itu, rasio penerimaan pajak terhadap PDB atau tax buoyancy tercatat berada di atas satu, sebuah pencapaian yang terjadi berkat windfall dari kenaikan harga batu bara dan amoniak. Lonjakan ekspor kedua komoditas tersebut pada 2022 mampu mengimbangi tekanan dari sisi impor bahan bakar minyak, sehingga secara keseluruhan Indonesia tetap mendapatkan keuntungan bersih.
Namun situasi pada tahun ini dinilai berbeda. Windfall serupa tidak terjadi karena volume ekspor batu bara Indonesia justru berkurang akibat kebijakan pembatasan dari China, sementara kondisi ekonomi China sendiri tengah melemah. Kombinasi faktor pemicu yang serupa - kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah - ternyata tidak menghasilkan dampak akhir yang sama seperti empat tahun sebelumnya, karena faktor penopang utama berupa lonjakan ekspor komoditas andalan tidak lagi bekerja secara optimal.
Peluang Amoniak dan Dilema Pupuk Dalam Negeri
Di tengah pelemahan ekspor batu bara, sektor amoniak sempat disebut sebagai salah satu peluang alternatif, mengingat komoditas ini berkaitan erat dengan kebutuhan pupuk global. Pada 2022, lonjakan permintaan amoniak justru didorong oleh aktivitas frontloading dari India, bukan China. Kini, kebutuhan pupuk global disebut kembali meningkat, bahkan disampaikan langsung oleh pejabat pemerintah bahwa banyak negara membutuhkan pasokan pupuk dari Indonesia.
Namun, menggenjot ekspor amoniak bukan tanpa risiko. Pengalaman 2022 menunjukkan bahwa ketika ekspor amoniak digenjot untuk memenuhi permintaan luar negeri, pasokan untuk kebutuhan pupuk dalam negeri justru berkurang. Persoalan ini semakin rumit karena kebutuhan pupuk nasional tidak hanya bergantung pada amonium sebagai sumber nitrogen, tetapi juga membutuhkan fosfat, kalium, dan asam sulfat, yang sebagian besar masih harus diimpor.
Pada 2022, tekanan dari sisi impor bahan baku pupuk ini sempat tertutupi oleh tingginya harga jual amoniak di pasar ekspor, sehingga secara neraca keuangan tetap menghasilkan surplus meski terjadi keluhan dari sektor perkebunan nonsubsidi yang harus mengimpor pupuk. Pola serupa berpotensi kembali terulang, namun dengan tantangan tambahan berupa kondisi permintaan global yang kini berbeda dari sebelumnya.
Tekanan Inflasi India dan Ketidakpastian Kawasan Asia
Berbeda dengan 2022, permintaan besar dari India yang dulu menjadi penopang windfall amoniak kini tidak lagi sekuat sebelumnya. Penyebabnya, India tengah menghadapi tekanan inflasi yang tergolong tinggi di kawasan Asia saat ini. Bahkan, sejumlah pemberitaan menyebutkan telah terjadi gelombang demonstrasi di India yang berkaitan dengan tekanan ekonomi tersebut.
Kondisi ini menggambarkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dialami China, tetapi juga negara-negara mitra dagang utama lain di kawasan Asia. Perlambatan ekonomi China dan tingginya inflasi di India secara bersamaan menciptakan situasi ketidakpastian yang cukup besar bagi negara-negara yang bergantung pada ekspor komoditas ke kedua negara tersebut, termasuk Indonesia.
Geopolitik Global - Kolaborasi Amerika Serikat dan Jepang Menekan China
Dinamika geopolitik turut memperumit situasi. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memilih mempertahankan suku bunga meski inflasi domestik AS mengalami kenaikan akibat lonjakan harga minyak. Menurut Yanuar, kondisi ini mengindikasikan bahwa pemerintah Amerika Serikat sebenarnya tidak sepenuhnya berupaya menekan inflasi, meski kebijakan yang diambil justru berpotensi merugikan perekonomian domestiknya sendiri.
Pola tersebut mengarah pada apa yang disebut sebagai kondisi stagflasi, yaitu situasi di mana perekonomian global mengalami stagnasi pertumbuhan yang dibarengi dengan inflasi tinggi. Kondisi ini semakin menguat setelah muncul pemberitaan mengenai kolaborasi antara Jepang dan Amerika Serikat dari sisi kebijakan moneter, yang menurut analisis Yanuar mengarah pada upaya bersama menekan posisi ekonomi China secara global.
Menghadapi tekanan tersebut, China diperkirakan akan mengambil sikap lebih defensif dalam kebijakan dagangnya, yang pada akhirnya turut berdampak pada mitra dagang China, termasuk Indonesia. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian baru di atas tekanan yang sudah ada dari sisi migas dan komoditas.
Ancaman Stagflasi dan Kebutuhan Kebijakan Stabilitas
Yanuar menekankan bahwa dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini, kebijakan ekonomi Indonesia idealnya diarahkan pada upaya menjaga stabilitas terlebih dahulu, bukan semata mengejar pertumbuhan ekspansif. Ia menyoroti bahwa narasi kebijakan yang terkesan enggan bergantung pada pihak asing berisiko kontraproduktif di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, karena hampir semua negara mitra dagang utama Indonesia turut menghadapi tekanan masing-masing.
Menurutnya, fungsi diplomasi ekonomi perlu lebih dikedepankan, dengan mengutamakan pendekatan yang saling menguntungkan bersama mitra dagang utama seperti China, India, dan Jepang. Pendekatan negosiasi dinilai akan menjadi faktor yang semakin dominan dalam menentukan arah hubungan dagang Indonesia ke depan, mengingat kompleksitas tekanan yang datang dari berbagai arah secara bersamaan.
Proyeksi Neraca Dagang ke Depan
Berdasarkan analisis sejumlah faktor yang telah diuraikan, mulai dari pelemahan permintaan bahan baku mineral dari China dan India, hingga ketidakpastian geopolitik yang masih terus bergulir di kawasan Timur Tengah, tren defisit neraca dagang berpotensi masih akan berlanjut dalam periode mendatang. Diperlukan sinergi yang lebih kuat antara kebijakan fiskal dan moneter agar mampu memberikan kepercayaan yang memadai, baik kepada investor domestik maupun internasional.
Yanuar menggambarkan kondisi ini layaknya tubuh yang sedang mengalami demam, di mana sinyal neraca dagang menjadi indikator awal yang perlu segera direspons. Menurutnya, langkah mendasar yang perlu ditempuh terlebih dahulu adalah menurunkan tekanan atau demam tersebut melalui kebijakan yang berorientasi pada stabilitas, sebelum kemudian kembali mengambil langkah-langkah ekspansif dalam pertumbuhan ekonomi ke depan.
FAQ (tanya - jawab) :
T: Apa penyebab utama defisit neraca dagang Indonesia dua bulan beruntun?
J: Penyebab utamanya adalah kenaikan defisit sektor migas akibat konflik Iran-AS yang mendorong harga minyak naik, ditambah pembatasan ekspor batu bara oleh China dan perlambatan ekonomi negara tersebut sebagai mitra dagang utama Indonesia.
T: Mengapa Indonesia tidak mengalami windfall seperti tahun 2022?
J: Karena volume ekspor batu bara berkurang akibat pembatasan dari China dan ekonomi China sedang melemah, sehingga lonjakan harga komoditas tidak diimbangi kenaikan volume ekspor seperti yang terjadi pada 2022 lalu.
T: Apa langkah yang disarankan untuk menghadapi tekanan neraca dagang ini?
J: Ekonom menyarankan kebijakan yang mengutamakan stabilitas terlebih dahulu, memperkuat diplomasi ekonomi dengan mitra dagang utama, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter agar tetap menjaga kepercayaan investor domestik dan internasional.