Rupiah Makin Loyo, Kita Harus Ngapain?
Dalam sepuluh hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melorot. Dari yang tadinya sudah cukup mengkhawatirkan di angka Rp 16.725 per dolar pada awal Januari 2026, kini rupiah sudah menyentuh kisaran Rp 17.720 per dolar. Angka yang cukup bikin pusing, kalau kita jujur.
Lalu apa yang sebetulnya sedang terjadi? Dan yang paling penting, apa dampaknya buat kita yang setiap hari pergi ke pasar, beli bensin, atau sekadar makan tahu tempe?
Mari kita bahas satu per satu:
Perang geopolitik di Timur Tengah, Harga Minyak Meledak
Faktor paling besar yang membuat rupiah loyo saat ini adalah situasi geopolitik global, khususnya gejolak perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Akibat konflik ini, Selat Hormuz yang merupakan jalur lalu lintas minyak dunia belum juga dibuka, sementara laut Oman diblokade. Hasilnya? Harga minyak mentah dunia melonjak menembus 100 dolar AS per barel.
Nah, Indonesia adalah negara pengimpor minyak. Jadi ketika harga minyak naik, otomatis kita butuh lebih banyak dolar untuk membeli minyak di pasar internasional. Permintaan dolar melonjak, sedangkan pasokannya terbatas, dan rupiah pun melemah. Sesederhana itu mekanismenya, meski dampaknya sangat terasa di kehidupan sehari-hari.
Pengamat mata uang Ibrahim Asuwaibi menyebut 2026 sebagai tahun yang suram bagi rupiah, dan melihat tren yang ada, pernyataan itu rasanya tidak berlebihan.

Faktor Dalam Negeri yang Bikin Masalah Makin Pelik
Kalau soal perang dan harga minyak, semua negara terdampak. Tapi kenapa Indonesia terasa lebih babak belur dibanding tetangga seperti Malaysia atau Singapura?
Di sinilah faktor domestik masuk.
Pertama, bulan Mei adalah musim pembayaran dividen. Banyak perusahaan yang beroperasi di Indonesia melakukan pembayaran dividen kepada pemegang saham asing, dan transaksi itu dilakukan dalam dolar. Artinya, dalam satu bulan ini saja, ada lonjakan permintaan dolar yang cukup besar dari dalam negeri sendiri.
Kedua, semakin banyak masyarakat yang melek teknologi keuangan dan memindahkan tabungan rupiah mereka ke mata uang asing. Bisa lewat aplikasi, bisa lewat berbagai instrumen investasi. Ini ikut menekan rupiah dari sisi permintaan dolar domestik.
Ketiga, dan ini yang paling krusial menurut para ekonom, adalah soal kepercayaan dan koordinasi kebijakan. Eko Listianto, Direktur INDEF, menyebut bahwa banyak kebijakan pemerintah belakangan ini keluar tanpa koordinasi yang matang dan tanpa sosialisasi ke pihak yang terdampak. Contohnya rencana kenaikan royalti di sektor tertentu yang tiba-tiba diumumkan saat pasar sedang bergejolak. Hasilnya, pelaku pasar semakin panik, spekulasi meningkat, dan rupiah makin tertekan.
Tambahan lagi, ada kekhawatiran pasar soal kemampuan pemerintah mengelola fiskal. Utang jatuh tempo cukup besar di tahun ini, dan banyak analis bertanya, uangnya nanti dari mana? Ketidakpastian itu yang akhirnya mendorong spekulasi dan membuat nilai tukar semakin dinamis, alias semakin tidak menentu.
Cadangan Devisa Terkuras, Bank Indonesia Kerja Keras
Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia tidak diam. Gubernur BI dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR mengungkapkan bahwa bank sentral sudah menyiapkan tujuh langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu langkah utamanya adalah intervensi langsung ke pasar valuta asing dengan menggelontorkan cadangan devisa.
Hasilnya? Cadangan devisa Indonesia yang akhir tahun 2025 masih di angka 156,5 miliar dolar, kini turun ke level 146,2 miliar dolar. Artinya, sekitar 10 miliar dolar sudah terpakai hanya untuk menahan agar rupiah tidak jatuh lebih dalam.
Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, menjadi 5,25%. Langkah ini bertujuan untuk menarik minat investor agar tetap menaruh uang mereka di instrumen investasi berbasis rupiah. Meski efeknya tidak langsung dan belum tentu bertahan lama, dalam jangka pendek ini bisa menahan pelemahan rupiah lebih jauh.
Dampak di Meja Makan Kita
Oke, bicara soal angka dan kebijakan memang penting. Tapi yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah dampaknya ke harga barang. Dan ini sudah mulai terasa meski belum merata.
Minyak goreng mulai langka di beberapa tempat. Sayuran naik. Kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe harganya merangkak. Daging sapi kabarnya sudah menyentuh Rp 170.000 per kilogram. Bahan baku plastik yang banyak diimpor juga naik, membebani para pelaku usaha kecil yang memakai kemasan plastik.
Ironisnya, bahan baku obat-obatan pun masih banyak yang diimpor. Jadi ketika rupiah melemah, biaya kesehatan pun berpotensi naik, menekan mereka yang paling rentan.
Yang sudah merasakan dampaknya lebih besar tentu kalangan menengah ke bawah. Harga naik, bantuan belum tentu datang, dan penghasilan tidak ikut naik.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Eko Listianto dari INDEF memberikan tiga poin utama yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
Yang pertama adalah fokus pada stabilitas. Semua pihak, baik Bank Indonesia maupun kementerian terkait, harus bergerak dalam satu narasi. Kalau BI sedang berupaya mengerem dengan menaikkan suku bunga demi menstabilkan rupiah, jangan sampai kementerian lain malah mengeluarkan kebijakan yang membuat pasar panik dan memperburuk sentimen.
Yang kedua adalah membangun kepercayaan. Kebijakan harus keluar setelah melalui kajian mendalam, ada naskah akademiknya, dan sudah dikomunikasikan ke pemangku kepentingan yang terdampak. Bukan kebijakan yang terburu-buru lalu ditarik lagi karena menuai protes, karena bolak-balik seperti itu justru merusak kredibilitas pemerintah di mata pasar.
Yang ketiga adalah memastikan kepastian usaha. Dunia usaha butuh lingkungan yang bisa diprediksi. Ketika pelaku bisnis tidak tahu aturan apa yang akan berubah besok, mereka memilih untuk wait and see, bahkan menarik modal keluar. Ini yang perlu dihindari.
Lalu, Kita sebagai Masyarakat Harus Bagaimana?
Bagi yang punya tabungan dolar dan berniat menjualnya sekarang, itu sebenarnya justru membantu menstabilkan nilai tukar. Tapi bagi masyarakat biasa yang tidak punya simpanan dolar, yang perlu dilakukan adalah menggunakan tabungan secara cermat dan bijak karena itu adalah bantalan terakhir di tengah ketidakpastian ini.
Satu hal yang lebih strategis adalah mulai beralih ke produk lokal. Kalau selama ini bahan baku yang dipakai dari impor, coba cari alternatifnya yang bisa dipenuhi dari dalam negeri. Bagi pelaku UMKM misalnya, mengurangi ketergantungan pada bahan impor bukan hanya soal efisiensi biaya, tapi juga soal bertahan hidup ketika rupiah sedang tidak bersahabat.
Menteri Keuangan dan Gubernur BI menyatakan optimistis rupiah akan kembali menguat di sekitar bulan Juni atau Juli. Semoga saja optimisme itu tidak sekadar upaya menenangkan pasar. Yang pasti, jalan menuju rupiah yang lebih kuat masih panjang dan penuh tantangan. Koordinasi kebijakan yang solid, kepercayaan pasar yang terjaga, dan kepastian berusaha yang terpelihara adalah kunci yang tidak bisa diabaikan.
Sambil menunggu situasi membaik, kita pun perlu lebih bijak mengelola pengeluaran. Karena badai ini belum benar-benar berlalu.
sumber: kompasTV