Dukung Login

Rupiah Menembus 18.000 dan IHSG Rontok, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

🌐 03 Jun 2026
👁 20 Views | X

IHSG anjlok 4% dan rupiah tembus 18.000, alarm darurat ekonomi RI


Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan serius pada Rabu, 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok tajam hingga mendekati level terendahnya dalam lima tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa - ini adalah akumulasi berbagai sentimen negatif yang datang bersamaan, baik dari dalam negeri maupun dari tekanan global yang belum mereda.




IHSG Terpukul Habis, Seluruh Sektor Kompak Melemah


Pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG ditutup anjlok sekitar 254 hingga 305 poin atau setara 4,11% hingga 4,94%, bergantung pada sesi pengukuran, ke kisaran level 5.889. Angka ini mencerminkan tekanan jual yang luar biasa masif di seluruh lini pasar saham. Dari ribuan saham yang diperdagangkan, hanya segelintir yang berhasil menguat. Sebanyak 692 hingga 714 saham tercatat melemah, sementara hanya 35 hingga 69 saham yang berhasil bertahan di zona hijau, dan sisanya bergerak stagnan.


Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus hingga menyentuh angka Rp 10.478 triliun. Volume transaksi terbilang tinggi dengan nilai perdagangan mencapai Rp 25,1 triliun hingga Rp 14,89 triliun pada sesi pertama. Aktivitas yang ramai ini justru mencerminkan derasnya aksi jual yang terjadi, bukan antusiasme pembelian.


Tidak ada satu sektor pun yang berhasil lolos dari tekanan. Sektor barang baku menjadi yang paling dalam pelemahannya, amblas antara 9,05% hingga 10,25% dalam sehari. Sektor energi menyusul dengan penurunan 5,61% hingga 7,16%, diikuti sektor infrastruktur yang turun 5,05% hingga 6,73%. Sektor kesehatan melemah 4,36%, sektor industri turun 3,54%, serta properti dan keuangan masing-masing terkoreksi 3,48% dan 1,76%.


Di kelompok saham unggulan LQ45, tekanan jual paling dalam dialami oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk yang merosot 14,91%, disusul PT Barito Pacific Tbk yang terkoreksi 13,47%, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk yang melemah 13,26%. Sementara itu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi salah satu dari sedikit saham yang mampu bertahan dengan penguatan tipis 0,67%, dan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk cenderung bergerak stabil.




Rupiah Menembus 18.000 untuk Pertama Kalinya


Bersamaan dengan amblasnya IHSG, rupiah mencatat rekor pelemahan historis. Berdasarkan data Google Finance, pada Kamis pagi rupiah diperdagangkan di atas level Rp 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.942, melemah 0,71% atau 127 poin dari posisi sehari sebelumnya di Rp 17.839.


Tren pelemahan ini berlangsung secara konsisten dalam beberapa pekan terakhir. Pada 28 hingga 29 Mei 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp 17.846 hingga Rp 17.881. Sempat menguat tipis ke Rp 17.803 pada 1 Juni, namun tekanan kembali menguat dan mendorong rupiah melanjutkan pelemahannya hingga melampaui level Rp 18.000.


Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual asing yang sangat deras. Dalam satu hari penutupan perdagangan 3 Juni 2026 saja, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 993 miliar. Jika ditarik selama sepekan penuh, nilai capital outflow dari pasar saham Indonesia mencapai angka yang sangat besar, yakni Rp 14,04 triliun. Arus keluar modal asing dalam skala tersebut memberikan tekanan ganda terhadap nilai tukar rupiah sekaligus melemahkan indeks bursa.




Multifaktor di Balik Guncangan Pasar


Mengapa guncangan ini terjadi begitu dalam dan begitu cepat? Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianti, menyebut kondisi ini sebagai akumulasi multifaktor yang datang hampir bersamaan.


Dari sisi eksternal, ketidakpastian global meningkat tajam akibat kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Ekspektasi pasar bahwa konflik kedua negara ini akan segera mereda ternyata tidak terpenuhi, bahkan memburuk dengan serangkaian serangan yang terjadi. Ketegangan geopolitik ini, termasuk isu penutupan Selat Hormuz, mendorong investor global bersikap defensif dan menarik modalnya dari aset-aset berisiko, termasuk pasar berkembang seperti Indonesia.


Dari sisi internal, tekanan justru datang lebih bertubi-tubi. Beredarnya rumor bahwa lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P) akan menurunkan peringkat kredit Indonesia - meski masih dalam kategori investment grade - sempat mengguncang sentimen pasar secara signifikan. Padahal, Menteri Keuangan Perubaya Yudi Sadewa sendiri mengonfirmasi bahwa pertemuan dengan perwakilan S&P baru akan berlangsung pada malam harinya, sehingga rumor tersebut sama sekali tidak berdasar.


Sentimen negatif internal semakin diperparah oleh rating outlook negatif yang diberikan lembaga pemeringkat Moody's kepada Danantara Investment Management. Meskipun hal ini sejatinya sudah mengikuti pola penurunan rating outlook pemerintah yang memang sudah ada sebelumnya, pasar bereaksi negatif dan menerjemahkannya sebagai sinyal buruk terhadap stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.


Menteri Keuangan sendiri mengakui bahwa banyak isu dan rumor di dalam negeri yang turut berperan menjatuhkan IHSG. Ia menegaskan bahwa kondisi fiskal pemerintah sesungguhnya dalam kondisi aman. Defisit anggaran pada periode lima bulan pertama 2026 hanya berada di kisaran 0,7% dari anggaran, dan jika diproyeksikan secara proporsional, angka defisit tahunan diperkirakan hanya sekitar 1,7% hingga 1,8% - jauh di bawah batas aman. Bahkan pendapatan pajak pada bulan Mei tumbuh 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan surplus primer kembali tercatat positif.


Telisa memperkirakan sekitar 60% tekanan berasal dari sentimen domestik dan 40% dari faktor global. Namun ia menekankan bahwa keduanya datang dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga efek gabungannya menjadi sangat dahsyat bagi pasar.




Dampak Terhadap Inflasi dan Daya Beli Masyarakat


Pelemahan rupiah yang tajam tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Dampak nyatanya mulai terasa di tingkat konsumen. Data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan dari 2,4% menjadi 3,08% secara tahunan, meski masih dalam batas target pemerintah. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah harga produsen yang sudah naik lebih dari 3%, bahkan mencapai kisaran 3,2%. Kenaikan harga di tingkat produsen ini hampir pasti akan merambat ke harga konsumen dalam waktu tidak terlalu lama.


Sejumlah harga pangan, kuliner, minuman, hingga bahan plastik sudah mulai terkerek naik. Bahkan bahan bakar minyak non-subsidi berpotensi untuk direview jika pelemahan rupiah terus berlanjut. Di tingkat akar rumput, kenaikan harga sudah mulai dirasakan masyarakat, termasuk di warung-warung makan sederhana sekalipun.


Telisa menilai bahwa potensi penggerusan daya beli masyarakat tetap ada, terlepas dari berbagai upaya pemerintah untuk memitigasinya melalui penguatan tim pengendali inflasi dan penahanan harga-harga yang masih bisa dikendalikan. Pertanyaannya bukan seberapa kuat upaya tersebut, melainkan seberapa lama kondisi tekanan ini akan berlangsung.


Dari sisi pertumbuhan ekonomi, beberapa lembaga internasional masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di kisaran 5% untuk 2026. Namun ada potensi penyesuaian ke bawah jika tekanan nilai tukar terus berlanjut dan berdampak pada konsumsi, investasi, serta beban utang yang sebagian berdominasi dolar.




Koordinasi Kebijakan dan Respons Pemerintah


Di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas. Bank Indonesia disebut telah menjalankan tujuh langkah strategis, termasuk intervensi di pasar valuta asing, penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan imbal hasil yang kompetitif, serta pengetatan aliran dolar untuk menjaga ketersediaan likuiditas dalam negeri.


Ketua KSSK menegaskan bahwa persoalan nilai tukar berada dalam ranah jurisdiksi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, dan koordinasi antarlembaga akan terus diperkuat sesuai kebutuhan. Rapat koordinasi reguler di tingkat deputi terus berjalan, dan jika Bank Indonesia membutuhkan percepatan koordinasi, respons akan segera diberikan.


Adapun terkait UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang sedang dalam tahap finalisasi, isu tentang perluasan mandat Bank Indonesia sempat menjadi titik perbedaan dalam pembahasan. Namun titik temu sudah ditemukan, dengan kesepakatan bahwa mandat Bank Indonesia tidak hanya mencakup stabilitas harga, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sektoral dan penciptaan lapangan kerja - serupa dengan praktik yang sudah diterapkan oleh The Federal Reserve di Amerika Serikat.




Rekomendasi Ahli: Komunikasi Kebijakan dan Solidaritas Nasional


Telisa menekankan bahwa solusi paling mendesak saat ini bukan hanya pada instrumen kebijakan, melainkan pada kualitas komunikasi kebijakan itu sendiri. Ia menilai bahwa narasi pemerintah yang terlalu menekankan sisi positif tanpa mengakui realita tekanan yang dirasakan masyarakat justru memperburuk kepercayaan publik.


Pemerintah, menurutnya, perlu mencontoh pendekatan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong - yang secara terbuka mengakui bahwa negaranya akan menghadapi guncangan, mempersiapkan masyarakat, dan mengajak semua pihak bergerak bersama. Pendekatan yang jujur dan empatik ini justru memperkuat kepercayaan publik, bukan melemahkannya.


Selain komunikasi, Telisa mendorong aktivasi "Gerakan Cinta Rupiah" dan "Gerakan Pahlawan Devisa" - sebuah seruan kepada para eksportir untuk secara sukarela mengonversi dan menempatkan devisa mereka di dalam negeri. Cadangan devisa Indonesia sudah tergerus dari 5,8 bulan impor menjadi 5,6 bulan impor, meski masih di atas ambang aman 3 bulan. Tren penurunan ini perlu diwaspadai.


Pemanfaatan momentum pariwisata yang sedang bergairah juga disarankan sebagai salah satu sumber penambahan devisa. Selain itu, diversifikasi transaksi dengan menggunakan mata uang lokal - termasuk yuan Tiongkok - sebagai alternatif dolar juga perlu terus diperkuat.


Indonesia, demikian Telisa meyakinkan, sudah memiliki modal dan pengalaman dalam melewati berbagai krisis besar. Sistem jaring pengaman keuangan sudah tersedia, perbankan dalam kondisi lebih solid, dan pertumbuhan ekonomi sektoral masih berjalan. Tantangannya kini adalah memastikan seluruh komponen bangsa - pemerintah, pelaku usaha, eksportir, dan masyarakat - bergerak dalam frekuensi yang sama, dengan kesadaran bersama bahwa lampu kuning ini harus dijaga agar tidak berubah menjadi merah.