Bagaimana caranya supaya gereja tidak menyimpang dari ajaran yang benar?
Daftar Isi:
- Apa Itu Orang yang Murtad
- Gereja yang Menyimpang
- Tidak Mendapat Bagian dalam Kerajaan Allah
- Tetap Berpegang pada Iman
- Penyesatan di Akhir Zaman
1. Apa Itu Orang yang Murtad
Pertama, kita perlu paham dulu apa itu orang murtad. Istilah ini berasal dari kata Yunani *apostasia*, yang artinya meninggalkan iman atau kepercayaan sepenuhnya.
Orang murtad adalah mereka yang awalnya terlihat percaya, aktif di gereja, bahkan terlibat dalam pelayanan, tetapi kemudian dengan sadar meninggalkan imannya kepada Kristus. Dalam Alkitab, Yudas Iskariot adalah contoh paling jelas. Ia adalah murid Yesus, hidup bersama-Nya, dan melihat banyak mujizat, tetapi akhirnya mengkhianati Yesus demi uang (Matius 26:14-16).
Selain itu, dalam 1 Yohanes 2:19 dijelaskan bahwa ada orang yang keluar dari antara orang percaya karena sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh bagian dari iman itu. Mereka terlihat sama di luar, tetapi hatinya tidak benar-benar percaya.
Contoh lain adalah Demas (2 Timotius 4:10), yang pernah melayani bersama Paulus, tetapi meninggalkan pelayanan karena lebih mencintai dunia. Ini menunjukkan bahwa ketertarikan pada hal dunia bisa membuat iman menjadi lemah dan akhirnya hilang.
Bangsa Israel juga sering menjadi contoh. Mereka melihat kuasa Tuhan secara langsung, seperti saat keluar dari Mesir, tetapi tetap membuat dan menyembah anak lembu emas (Keluaran 32). Ini menunjukkan bahwa tanpa hati yang sungguh-sungguh taat, manusia mudah sekali berpaling.
Dari semua contoh ini terlihat bahwa kemurtadan tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai dari hati yang mulai menjauh, lalu perlahan meninggalkan kebenaran. Karena itu penting untuk menjaga iman secara pribadi, bukan hanya terlihat aktif di luar, tetapi benar-benar hidup di dalam Tuhan.
2. Gereja yang Menyimpang
Gereja yang menyimpang adalah gereja yang awalnya berdiri di atas kebenaran Firman Tuhan, tetapi perlahan mulai menjauh dan mengikuti ajaran yang tidak sesuai Alkitab.
Dalam Wahyu 2-3, Yesus menegur beberapa jemaat. Jemaat di Efesus dipuji karena setia dalam pelayanan, tetapi ditegur karena kehilangan kasih mula-mula (Wahyu 2:4). Ini menunjukkan bahwa kesibukan rohani tidak cukup jika hati sudah tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sungguh.
Jemaat di Pergamus dan Tiatira juga ditegur karena membiarkan ajaran sesat berkembang (Wahyu 2:14-16, 2:20). Mereka tidak tegas terhadap kesalahan, sehingga kebenaran mulai tercampur dengan hal yang salah.
Paulus juga memperingatkan dalam Kisah Para Rasul 20:29-30 bahwa setelah ia pergi, akan muncul orang-orang yang mengajarkan hal menyimpang, bahkan dari dalam jemaat sendiri. Ini berarti ancaman terbesar bisa datang dari dalam, bukan hanya dari luar.
Dalam Perjanjian Lama, nabi Yeremia juga menghadapi nabi-nabi palsu yang menyampaikan pesan yang menyenangkan, tetapi tidak benar (Yeremia 23:16). Mereka membuat orang merasa aman, padahal sebenarnya sedang menjauh dari Tuhan.
Karena itu, gereja harus terus kembali kepada Alkitab sebagai dasar utama. Tanpa itu, gereja bisa terlihat baik dan aktif, tetapi sebenarnya sudah kehilangan arah.
3. Tidak Mendapat Bagian dalam Kerajaan Allah
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa hidup dalam dosa tanpa pertobatan akan menjauhkan seseorang dari Kerajaan Allah. Dalam Galatia 5:19-21 disebutkan berbagai perbuatan dosa yang harus dijauhi, seperti percabulan, iri hati, kemarahan, dan lainnya.
Contoh yang jelas adalah Raja Saul. Ia dipilih Tuhan, tetapi karena tidak taat, ia kehilangan berkat dan posisinya (1 Samuel 15:22-23). Ia lebih memilih mengikuti keinginannya sendiri daripada menaati Tuhan.
Sebaliknya, Raja Daud juga pernah jatuh dalam dosa besar, tetapi ia merespons dengan pertobatan yang sungguh-sungguh (Mazmur 51). Ini menunjukkan bahwa Tuhan melihat hati yang mau kembali kepada-Nya.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus berkata bahwa tidak semua orang yang berseru kepada-Nya akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 7:21-23). Bahkan ada yang melakukan hal-hal besar dalam nama Tuhan, tetapi tetap ditolak karena hidupnya tidak sesuai kehendak-Nya.
Contoh lain adalah Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11), yang berbohong kepada Tuhan dan menerima konsekuensi langsung. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak main-main dengan dosa, bahkan di dalam gereja.
Karena itu, hidup benar di hadapan Tuhan bukan pilihan tambahan, tetapi bagian penting dari iman.
4. Tetap Berpegang pada Iman
Mempertahankan iman bukan hal yang otomatis, tetapi perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Dalam Yudas 1:3, orang percaya diminta untuk berjuang mempertahankan iman yang benar.
Daniel adalah contoh nyata orang yang tetap setia. Ia terus berdoa kepada Tuhan walaupun ada larangan dari raja (Daniel 6). Ia tidak kompromi, meskipun harus menghadapi ancaman dimasukkan ke gua singa.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego juga menunjukkan iman yang kuat. Mereka menolak menyembah patung emas dan tetap setia kepada Tuhan, meskipun harus menghadapi dapur api (Daniel 3). Tuhan menyertai mereka dan meluputkan mereka.
Rasul Paulus juga menjadi contoh ketekunan. Ia tetap setia dalam pelayanan meskipun menghadapi penderitaan, penjara, dan penganiayaan (2 Korintus 11:23-28). Ia tidak meninggalkan imannya dalam keadaan sulit.
Timotius juga diingatkan untuk tetap berpegang pada ajaran yang benar (2 Timotius 1:13). Ini menunjukkan bahwa iman harus dijaga terus-menerus melalui Firman Tuhan, doa, dan ketaatan.
Tanpa itu, iman bisa menjadi lemah dan mudah dipengaruhi oleh hal lain.
5. Penyesatan di Akhir Zaman
Alkitab memperingatkan bahwa di akhir zaman akan banyak penyesatan. Dalam 1 Timotius 4:1 disebutkan bahwa sebagian orang akan meninggalkan iman dan mengikuti ajaran yang menyesatkan.
Yesus juga berkata bahwa akan muncul nabi-nabi palsu yang bisa melakukan tanda-tanda ajaib untuk menyesatkan banyak orang (Matius 24:24). Ini berarti penyesatan tidak selalu terlihat salah, bahkan bisa tampak meyakinkan.
Dalam Perjanjian Lama, nabi Yeremia menghadapi nabi-nabi palsu yang berkata “damai”, padahal sebenarnya tidak ada damai (Yeremia 6:14). Mereka hanya menyampaikan apa yang ingin didengar orang.
Dalam 1 Raja-Raja 22, nabi Mikha berdiri sendiri melawan banyak nabi palsu yang menyesatkan Raja Ahab. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas.
Contoh yang baik adalah orang Berea (Kisah Para Rasul 17:11). Mereka memeriksa Kitab Suci setiap hari untuk memastikan bahwa ajaran yang mereka dengar benar.
Sikap ini penting dimiliki supaya tidak mudah tertipu oleh ajaran yang terlihat benar, tetapi sebenarnya menyimpang dari Firman Tuhan.